Selain AST, ada satu lagi jenis kura-kura galak lainnya yang nggak kalah keren juga. Namanya Common Snapping Turtle, atau bisa disingkat CST.

Keduanya memang mirip-mirip, sih. Tapi, untuk Common Snapping Turtle ini, mereka punya tampang yang sedikit lebih kalem, lho. Karapasnya juga relatif lebih halus dan tidak terlihat seperti berduri.

Mungkin berangkat dari alasan tadi, kura-kura ini akhirnya disebut Common Snapping Turtle, atau yang berarti “kura-kura penggigit biasa”.

Mari kita bahas lebih banyak tentangnya di sini!

Pengenalan Common Snapping Turtle

Kenalan dengan Common Snapping Turtle
Thevlm.org

Sudah sejauh mana sih, pengetahuanmu tentang kura-kura ini? Jika dirasa masih banyak yang belum kamu ketahui, yuk kita kenali lagi di sini. Simak pembahasannya berikut ini, ya!

#1. Nama dan Klasfikasi

Chelydra serpentina adalah nama ilmiahnya.

Tidak banyak variasi nama untuk kura-kura ini, lebih-lebih di Indonesia. Mereka kerap disapa Common Snapping Turtle, atau disingkat menjadi kura-kura CST. Penyingkatan nama ini, bertujuan agar penyebutannya tidak terlalu sulit dan panjang.

Mereka adalah spesies kura-kura yang masuk ke dalam genus Chelydra. Meski genusnya berbeda dengan AST, keduanya masih berada dalam satu keluarga, kok. Tepatnya ada di famili Chelydridae. Karena itulah keduanya disebut masih berkerabat.

Berikut tabel klasifikasi untuk Common Snapping Turtle:

KingdomAnimalia
FilumChordata
KelasReptilia
OrdoTestudines
SubordoCryptodira
KeluargaChelydridae
GenusChelydra
SpesiesChelydra serpentina

#2. Anatomi dan Morfologi Common Snapping Turtle

Common Snapping Turtle memiliki perawakan tubuh yang kekar berotot. Banyak persamaan fisik antara dirinya dengan AST. Meski begitu, kedua kura-kura ini tetap memiliki beberapa perbedaan yang cukup mencolok.

Perbedaan fisik pertama antara kura-kura CST dengan AST bisa dilihat dari permukaan fisiknya. Meski CST memiliki kulit dan karapas yang juga kasar bergerigi, namun tonjolan yang ada hanya nampak lebih jelas di usia muda. Itu pun tetap tidak sedominan AST.

Warna tubuhnya juga kecokelatan, tapi jauh lebih cerah jika dibandingkan dengan AST. Selain itu, ada juga varian kura-kura CST yang berwarna kuning cerah, lho. Kondisi ini membuatnya diberi embel-embel “Hypo”, mengarah pada kondisi hypomelanistic yang dialaminya.

Common Snapping Turtle jantan umumnya berukuran lebih besar daripada betina. Mereka bisa berukuran 25 sampai 50 cm saat dewasa, dengan berat yang berkisar antara 4,5 sampai 16 kg.

#3. Habitat Common Snapping Turtle

Common Snapping Turtle biasa menghuni kolam alami dan sungai-sungai. Selain itu, kadang juga mereka ditemukan di area berair payau, seperti halnya muara.

Bagian dasar berlumpur di perairan dangkal adalah habitat favorit mereka, untuk berenang sembari mengeluarkan lehernya sebagai alat snorkel di sana. Mereka juga kadang beristirahat di atas kayu yang terapung, atau justru langsung mengapung tanpa bantuan alas apa pun.

Asalnya dari benua Amerika, yang penyebarannya mencangkup wilayah Kanada, tepi pegunungan Rocky, hingga Florida.

#4. Gaya Berburu dan Makanan

Kura-kura CST lebih menyukai gaya berburu konvensional. Mereka tidak mempunyai lidah cacing sebagaimana AST. Karena itu, mereka merupakan pemburu yang lebih aktif dalam mengejar-ngejar mangsanya.

Sebagai predator, mereka biasa mengonsumsi makanan berupa invertebrata, katak, reptil, ikan, hingga mamalia kecil dan burung yang kebetulan mampir.

Selain itu, mereka juga disebut-sebut sebagai hewan pemulung, karena mau mengonsumsi makanan apa pun yang bisa dilahapnya, sekalipun itu hanya bangkai, sisa-sisa buruan, atau beberapa jenis materi tumbuhan.

#5. Pemburu yang Juga Diburu

Meski termasuk predator, sayangnya kura-kura CST tidak menduduki posisi puncak dalam hierarki rantai makanan. Kadang kala, mereka sendirilah yang justru menjadi korban buruan, terlebih lagi saat usianya masih belia, di mana kala itu mereka masihlah seekor tukik, atau bahkan sebutir telur yang tak berdaya.

Di antara pemangsanya, antara lain meliputi mamalia predator, burung-burungan, katak, ikan besar, hingga ular. Bahkan, di saat hibernasi sekalipun, mereka juga kadang menjadi sasaran buruan berang-berang, lho.

#6. Perilaku Lainnya

Ada satu kata yang cocok untuk disematkan bagi kura-kura ini. Galak! Lebih-lebih lagi saat di daratan. Mereka adalah sosok hewan yang berani melawan ancaman, agresif, hingga penasaran akan sesuatu hal yang baru.

Misal, saat ada orang yang meletakkan kakinya di dasar sungai, entah untuk berenang, atau keperluan lainnya. Dalam beberapa kasus, kura-kura ini justru penasaran, hingga kemudian memberikan sedikit “ciuman mesra” kepada objek tersebut.

Meski begitu, kadang juga mereka memilih untuk menjauh, atau bersembunyi di tempat yang dirasanya lebih aman, seperti ke dalam lumpur, atau sekitar rerumputan. Sedangkan jika ini terjadi di darat, kemungkinan mereka akan berlari kembali ke dalam air, selain memilih untuk menyerang.

#7. Sebagai Hewan Peliharaan

Common Snapping Turtle sejatinya bukanlah hewan yang ideal untuk dipelihara. Apalagi jika kamu mengharapkan sosok peliharaan yang lucu dan bisa diajak bermain bersama.

Ingatlah bahwa mereka bisa sangat berbahaya. Bukan beracun atau berbisa, tapi potensi memberi luka yang luar biasa. Kura-kura ini bisa meninggalkan luka sobek yang sangat dalam, atau bahkan mereka bisa saja menghilangkan jari tangan manusia.

Jadi, kamu harus mempertimbangkan hal-hal tersebut jika ingin memeliharanya, ya. Utamakan kehati-hatian, serta pelajari bagaimana langkah-langkah yang tepat dalam merawat dan menangani hewan melata ganas satu ini.

Cara Memelihara Common Snapping Turtle

Cara Memelihara Kura-Kura CST
Shopee

Sudah ada peringatan soal bahaya kura-kura CST. Meski begitu, bukan berarti mereka tidak boleh dipelihara sama sekali, kok. Kamu boleh memeliharanya, asal tahu ilmunya, juga siap dengan segala konsekuensi yang ada.

Yuk, pelajari cara memelihara kura-kura CST, melalui pembahasan berikut ini:

#1. Tempat Tinggal Common Snapping Turtle

Tempat tinggal merupakan hal pertama yang harus kamu siapkan. Ini meliputi tempat apa yang akan kamu gunakan, berapa ukurannya, hingga kelengkapan-kelengkapan lainnya yang mungkin diperlukan.

Dalam hal ini juga, tentu tidak luput untuk senantiasa memperhatikan soal kebersihannya.

1.1. Pemilihan Tempat Bagi Kura-Kura CST

Kamu harus tahu, kalau kura-kura CST itu bisa tumbuh besar, lho. Meski begitu, kamu tetap bisa memeliharanya secara bertahap, kok. Dengan ukuran kandang yang proporsional, menyesuaikan ukuran tubuhnya seiring perkembangan.

Kedalaman airlah yang justru perlu lebih diperhatikan. Jangan sampai mereka terlalu tenggelam, ya. Kira-kira, kedalaman air yang diperlukan, hanyalah sebatas menenggelamkan tempurungnya saja, namun masih memungkinkannya untuk mengeluarkan leher dan menarik napas.

Mengapa demikian? Hal ini ternyata dikarenakan kura-kura jenis ini cenderung bersifat full aquatic, sehingga banyak hobbyist yang tidak menyediakan area basking atau daratan di kandangnya.

Bagaimana jika tersedia basking di sana? Ketinggian air tetap disarankan seperti tadi, kecuali jika kamu punya area yang lebih dalam dan area lainnya yang lebih dangkal.

Sedangkan untuk jenis kandangnya, kamu bisa gunakan akuarium kaca, akuarium akrilik, box container, kolam fiber, hingga kolam permanen. Akuarium kaca, akuarium akrilik, dan kolam permanen, mungkin merupakan pilihan terbaik dari segi estetika.

1.2. Pencahayaan

Spesies ini mungkin akan banyak menghabiskan waktunya di dalam air. Namun mereka tetaplah hewan berdarah dingin yang membutuhkan kehangatan sinar matahari.

Di samping menjemurnya, kamu bisa melengkapi kandang mereka dengan lampu UVA dan UVB. Kedua jenis lampu ini berperan mengikuti fungsi matahari, yaitu guna menghangatkan diri, serta merangsang produksi vitamin D.

Wajib atau tidaknya penggunaan lampu ini sebetulnya relatif. Kalau kamu tinggal di daerah yang hangat, kemudian kura-kura juga berada di ruangan yang tidak ber-AC, apalagi jika kamu rajin menjemur mereka secara berkala, maka penggunaan lampu ini bisa menjadi opsional.

1.3. Penghangat

Masih berkaitan dengan hewan berdarah dingin, namun kali ini soal kehangatan airnya. Kamu bisa mengoptimalkan kenyamanan kandangnya lagi, dengan melengkapi kandang tersebut dengan heater atau penghangat air.

Suhu air yang ideal bagi kura-kura CST berkisar antara 24 sampai 30 °C. Meski begitu, sebetulnya kura-kura ini sangat toleran terhadap suhu air, lho. Bahkan jika suhu air terlalu dingin, mereka masih sanggup bertahan dengan memasuki masa hibernasi.

NB: Mampu bertahan tidak sama dengan hidup nyaman.

1.4. Substrat

Kelebihan dari penggunaan substrat dan dekorasi, di antaranya dapat memberikan Common Snapping Turtle kenyamanan lebih, meminimalisir resiko stres, dan lebih indah dipandang.

Akan tetapi, di samping itu, penggunaan substrat juga mungkin menimbulkan beberapa dampak negatif. Misalnya:

  • Substrat berupa batuan yang terlalu besar, bisa mengakibatkan kura-kura kecil terjepit.
  • Jika batuannya terlalu kecil, akan berbahaya jika mereka sampai memakannya. Belum lagi jika bertekstur kasar dan tajam.
  • Sedangkan bila berupa lumpur atau pasir, maka akan merepotkan di saat melakukan penggantian air.

Berangkat dari alasan-alasan tadi, maka penggunaan substrat mungkin lebih baik untuk tidak diterapkan. Kamu bisa mengakali kenyamanan bagi kura-kura CST dengan memanfaatkan dekorasi lain, serta membuat kandangnya menjadi senyaman mungkin untuk dihuni.

1.5. Perawatan Kebersihan

Perawatan kebersihan adalah satu hal wajib yang harus kamu lakukan secara rutin. Tidak perlu setiap hari, tapi kamu harus mempertahankan agar kolam atau akuarium yang dihuni Common Snapping Turtle senantiasa dalam keadaan bersih.

Air harus diganti, sekalipun kamu menggunakan sistem filtrasi. Jangan biarkan kotoran atau sisa-sisa pakan menumpuk di dasar air. Kamu bisa keluarkan dulu kura-kuranya, lalu kuras seisi akuarium, atau lakukan siphon untuk kolam dan wadah besar lainnya.

Begitu pun dengan segala dekorasi dan dinding tempat pemeliharaan. Ini juga perlu dibersihkan dari lumut yang mungkin tumbuh, serta dari kotoran, bakteri, virus, hingga jamur yang bisa menjadi sumber penyakit bagi kura-kura.

#2. Kebutuhan Rutin Kura-Kura CST

Selain soal tempat pemeliharaan, ada juga kebutuhan rutin Common Snapping Turtle yang tak kalah penting. Di sinilah proses pemeliharaan sejatinya berlangsung. Kamu harus mencukupi berbagai kebutuhannya, seperti memberinya makan dan menjemurnya.

2.1. Makanan

Common Snapping Turtle memiliki kecenderungan karnivora, meski kadang mereka juga diketahui mau memakan beberapa varian tumbuhan.

Kura-kura kecil, bisa diberi pakan berupa ikan kecil, udang potong, cacing, dan pelet, dengan jadwal pemberian pakan yang dilakukan setiap hari, guna mengoptimalkan pertumbuhannya.

Sedangkan untuk kura-kura dewasa, bisa diberi variasi makanan yang lebih luas, termasuk tikus putih, sayuran hijau, dan beberapa jenis buah-buahan (sebagai cemilan). Pemberian pakan dilakukan 3 kali seminggu, dengan persentase 70-75% protein dan 25-30% sisanya bahan nabati.

2.2. Matahari

Lagi-lagi soal hewan berdarah dingin, sehingga mereka membutuhkan sinar matahari. Jika sekiranya kolam atau akuarium tempat mereka tinggal tidak terjamah oleh sinar matahari, maka kamu punya tugas untuk menjemur mereka, setidaknya beberapa kali dalam seminggu.

#3. Cara Memegang

Sama seperti AST, cara memegang Common Snapping Turtle juga tidak bisa sembarangan, lho. Ada tekniknya dan harus disertai dengan kehati-hatian.

Sebagian orang ada yang masih salah kaprah tentang caranya. Alih-alih untuk menghindari gigitan, mereka justru memilih bagian ekor untuk mengangkatnya. Padahal, cara ini bisa menimbulkan cedera serius bagi Common Snapping Turtle.

Cara yang tepat adalah dengan memegang bagian belakangnya. Angkat plastron di bawah kaki belakang, dengan ibu jari menjepit karapas dari atasnya. Berhati-hatilah untuk tidak menyakiti ekornya, ya.

Harga Kura-Kura CST

Berapa Harga Kura-Kura CST Baby dan Dewasa di Indonesia?
Tokopedia

Harga kura-kura CST di pasaran itu cukup variatif. Namun secara umum, jenis kura-kura ini sering kali dibanderol di angka yang lebih murah dibanding kerabatnya, kura-kura AST.

Faktor ukuran adalah salah satu parameter yang menentukan seberapa mahal harga kura-kura ini. Harga kura-kura CST baby, tentu tidak akan sama dengan harganya ketika dewasa.

Nah, kamu bisa cek estimasi harganya di bawah ini, ya:

#1. Harga Kura-Kura CST Baby

Baby Common Snapping Turtle yang dijual, rata-rata berukuran 3-5 cm. Di rentang ukuran ini, kura-kura CST bisa dijual sekitar 500 ribuan. Bisa jadi lebih mahal, atau justru sebaliknya. Sebab bukan hanya faktor ukuran saja yang menjadi penentunya.

#2. Harga Kura-Kura CST Dewasa

Ada pun untuk kura-kura CST dewasa, harganya lebih variatif lagi. Mulai dari ukuran 10 cm ke atas, harganya sudah bisa tembus lebih dari satu juta rupiah. Apalagi untuk indukan, yang bisa mencapai belasan juta per ekornya.

NB: Selain dipengaruhi oleh usia dan ukuran fisik, harga kura-kura CST juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lain, seperti kelengkapan fisik, ketersediaan stok, dan lain sebagainya.

Akhir Kata

Ilustrasi Penutup Dalam Artikel Common Snapping Turtle
Explore.Berkshiremuseum.org

Nah, itulah beberapa pembahasan tentang Common Snapping Turtle, alias kura-kura CST.

Memang sih, banyak persamaan antara kura-kura ini dengan AST. Tapi, itu bukan berati mereka adalah jenis yang sama. Sebab, perbedaannya juga banyak sekali, kok.

Ngomong-ngomong, kalau kamu ingin mengetahui juga soal kura-kura AST, mulai dari pengenalannya, cara merawat, hingga tentang harganya, kamu bisa baca di sini, ya!

Semoga bermanfaat!