Selamat Datang di Zaman Fitnah, Ketika Orang yang Duduk Lebih Baik dari Mereka yang Berdiri

“Sesungguhnya menjelang datangnya hari Kiamat akan muncul banyak fitnah besar bagaikan malam yang gelap gulita, pada pagi hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir di sore hari, di sore hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir pada pagi hari. Orang yang duduk saat itu lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri saat itu lebih baik daripada orang yang berjalan dan orang yang berjalan saat itu lebih baik daripada orang yang berlari. Maka patahkanlah busur-busur kalian, putuskanlah tali-tali busur kalian dan pukulkanlah pedang-pedang kalian ke batu. Jika salah seorang dari kalian dimasukinya (fitnah), maka jadilah seperti salah seorang anak Adam yang paling baik (Habil).” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim).

Sebuah hadits yang begitu menggetarkan hati. Disabdakan sekitar 1400 tahun yang lalu oleh Baginda Nabi Muhammad SAW untuk mengingatkan seluruh makhluk akhir zaman nanti. Namun, sadarkah kalian bahwa hadits tersebut menggambarkan keadaan dunia saat ini?

Tak jarang lagi, tatkala seseorang telah mengucapkan dua kalimat persaksiannya dan pengakuannya kepada islam, tiba-tiba ia kembali terjatuh ke dalam jurang kekafiran. Beralasankan soal politik, ekonomi, pergaulan, gengsi, HAM, toleransi, bahkan sekedar masalah asmara agama rela ditinggalkan begitu saja seperti tak berguna.

Semua itu tak lain terjadi karena dahsyatnya fitnah yang terjadi saat ini. Fitnah di sini bukanlah fitnah yang berarti tuduhan kepada orang lain dimana sebenarnya orang yang dituduh tidak melakukan perbuatan yang dituduhkan tersebut.

Fitnah di sini merupakan sebuah keadaan dimana sesuatu yang benar seolah-olah salah dan yang salah terlihat seolah-olah benar. Dan inilah keadaan nyata yang terjadi saat ini. Mana yang benar dan mana yang salah? Semua itu tertutup oleh argumen-argumen sesat, namun diucapkan dengan pengolahan kata yang indah.

Orang-orang berdebat mengagung-agungkan argumen masing-masing sambil menjatuhkan argumen pihak sebelah. Merasa paling benar namun tak mau mendengar kebenaran. Kebanyakan dari mereka termasuk orang yang berilmu, namun mereka buta dengan kebenaran

Pertanyaannya sederhana, yakinkah kalian dengan argumen kalian? Atau sebenarnya kalianlah yang sedang menutup-nutupi kebenaran Al-Qur’an dan hadits dan menggunakannya untuk membenarkan argumenmu yang salah? Lupakah kalian dengan azab-Nya?

“Adapun orang-orang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka” (QS. Al-Maidah : 10).

Zaman Fitnah

sai.org.ua

Mungkin di zaman inilah maksud dari hadits di atas tadi. Dan di zaman ini pula memilih diam dari kemungkaran dan fitnah yang terjadi justru lebih baik. Bukan, bukan karena tidak peduli dan tidak mau mencegah kemungkaran. Pun ketentuan amar ma’ruf nahi munkar akan selalu berlaku hingga berakhirnya kehidupan ini.

Lalu apa alasannya? Karena dengan memilih diam berarti kita telah memilih untuk tidak ikut serta dalam fitnah yang ada. Justru dengan mengambil sebuah tindakan kemunkaran bukannya tercegah, melainkan semakin tumbuh dan berkembang.

Itulah sebabnya Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang duduk lebih baik dari orang yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik dari orang yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik dari orang yang berlari.

Mereka yang memilih duduk dan tidak ikut serta dalam fitnah yang nyata bukan berarti lalai kepadaNya. Mereka hanya mengambil langkah yang insya Allah paling aman, terutama bagi diri mereka pribadi.

Duduk berarti diam menjaga diri. Tidak cepat-cepat membenarkan suatu hal dan tidak pula menghakimi yang dianggapnya salah. Mengambil cara yang lebih tepat agar terhindar dari sifat kotor saling menghujat, menghina, dan menjatuhkan. Yang mereka lakukan hanyalah bersabar dan berdoa meminta perlindungan kepadaNya.

Pada intinya, dalam menerapkan prinsip amar ma’ruf nahi munkar dibutuhkan ilmu dan kehati-hatian. Demi menghindari berkembangnya kemunkaran tersebut, cukuplah kita menasihati mereka yang masih memiliki hati untuk menerima kebenaran di zaman ini. Tak perlu terlalu aktif karena justru malah menumbuhkan kemunkaran yang ada.

“Allah akan mengadili di antara kamu pada hari kiamat tentang apa yang dahulu kamu perselisihkan” (QS. Al-Hajj : 69)

Baca Juga : Jubah Muslim Pria

***

Mungkin hanya sekian ilmu yang bisa saya share di artikel ini. Bila ada kesalahan di sini itu datangnya dari syaiton dan dari saya pribadi, namun segala yang benar di sini datangnya dari Allah SWT karena Dialah yang Maha Benar. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply