Trenggiling, Satu Lagi Hewan Asal Indonesia yang Kian Terancam Punah

Trenggiling – Trenggiling merupakan salah satu spesies hewan yang berasal dari ordo Pholidota. Di luar negeri, trenggiling dikenal sebagai Pangolin dan masih tergolong Anteater yang berarti pemakan semut. Trenggiling juga memiliki nama latin yaitu Manis javanica syn. Paramanis javanica.

Sesuai dengan nama yang ia miliki, Trenggiling merupakan jenis hewan pemakan semut dan juga rayap. Namun Trenggiling ini juga kadang kala akan mengkonsumsi serangga-serangga kecil lainnya. Trenggiling akan menjulurkan lidahnya hingga sepertiga panjang tubuhnya untuk menangkap semut-semut yang berkeliaran.

Bentuk tubuh yang dimiliki oleh Trenggiling tergolong unik. Tubuhnya memanjang dan mampu mencapai 1 meter itu diselimuti oleh rambut yang termodifikasi menjadi seperti sisik-sisik yang cukup keras untuk melindungi dirinya.

Ketika Trenggiling sedang merasakan ada bahaya yang mengintainya, hewan ini akan menggulungkan tubuhnya yang panjang itu sampai terlihat membulat seperti bola. Sisik-sisik keras yang berada pada tubuhnya pun akan melindungi seluruh bagian tubuhnya.

Tak hanya itu saja, kadang kala Trenggiling juga akan memberikan perlawanan kepada musuhnya. Ekornya yang panjang, besar, dan juga diselimuti sisik-sisik keras nan tajam akan ia gunakan untuk menyerang musuh yang berada di sekitarnya.

Penyebaran Trenggiling di dunia tidak begitu luas. Hanya ada dua daerah saja yang menjadi tempat penyebaran hewan ini. Dari 8 spesies Trenggiling yang ada, 4 di antaranya berada di benua Asia, sedangkan 4 spesies lainnya tersebar di benua Afrika. Mereka hidup di daerah hutan hujan Tropis yang berada di dataran rendah.

Keempat spesies Trenggiling yang berada di Indonesia merupakan jenis trenggiling yang tergolong dalam genus Manis. Sedangkan Trenggiling yang tersebar di benua Afrika terdiri dari dua genus Smutsla dan dua genus Phataginus.

Trenggiling Biasa merupakan Trenggiling genus manis yang hidup di negara Indonesia. Penyebaran Trenggiling jenis ini di Indonesia dimulai dari pulau Sumatera, pulau Jawa, pulau Kalimantan, hingga pulau Nusa Tenggara.

Mitos Trenggiling Sebagai Jelmaan Roh Jahat

Mitos Trenggiling

www.telegraph.co.uk

Pada sekitar tahun 1960 sampai tahun 1980-an, Trenggiling sangat berkaitan erat dengan mitos yang ada kala itu. Beberapa kalangan masyarakat sempat beranggapan bahwa Trenggiling merupakan makhluk jelmaan setan dan juga pertanda buruk.

Menanggapi hal tersebut, sebagian pihak merasa ketakutan dan tidak berani mendekati hewan ini. Namun sebagian lainnya justru memilih untuk menangkapnya, yang kemudian dibakar hidup-hidup sembari beranggapan bahwa roh jahat yang berada di dalam tubuh Trenggiling pun ikut terbakar.

Namun tak jarang, ketika Trenggiling ditangkap untuk dibakar, sering kali hewan ini menghilang tanpa jejak sehingga masyarakat semakin mengaitkannya dengan hal-hal berbau mistis. Namun sisi positifnya, kala itu populasi Trenggiling masih cukup terjaga dan belum banyak mengalami penurunan.

Populasi Trenggiling yang Kian Menurun

Trenggiling Semakin Langka

www.qqxxzx.com

Anggapan tentang cerita-cerita mistis Trenggiling tidak berlangsung lama. Setelah diketahui bahwa Trenggiling menyimpan berbagai manfaat yang sangat berguna, masyarakat pun mulai melupakan soal mitos-mitos yang ada.

Pemburuan secara liar dan besar-besaran pun dilakukan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab yang hanya memikirkan keuntungan pribadinya semata. Itu lah yang hingga kini mengakibatkan penurunan populasi Trenggiling secara drastis.

Setiap tahunnya, baik dari benua Asia maupun benua Afrika, ada sekitar seratus ribu ekor Trenggiling yang diburu dan ditangkap. Dengan berbagai macam pemanfaatan, Trenggiling hasil buruan tersebut diimpor ke berbagai belahan dunia, terutama Vietnam dan juga Tiongkok.

Tentu saja hal itu sangat berpengaruh pada jumlah populasi Trenggiling yang ada. Saking banyaknya jumlah Trenggiling yang mati tiap tahunnya, saat ini Trenggiling akhirnya masuk ke dalam list hewan paling langka dan terancam punah di dunia.

Tak hanya itu, pemburuan Trenggiling sempat menjadi sorotan publik pada awal tahun 2015 lalu untuk diimpor ke berbagai negara. Pada sekitar tahun 2008 sampai 2009 pun sudah banyak kasus yang mengakibatkan semakin menurunnya populasi Trenggiling.

Satu ekor Trenggiling hasil buruan dijual dengan harga sekitar 400 ribu rupiah dalam keadaan hidup dan 200 ribu rupiah jika sudah dikuliti. Sedangkan untuk sisik Trenggiling, harganya berkisar dari 350 ribu rupiah hingga mencapai jutaan rupiah per kilogramnya.

Berbagai Manfaat dari Trenggiling

Pemburuan Trenggiling yang dilakukan secara besar-besaran bukan lah dilakukan tanpa alasan yang jelas. Semua itu tak lain karena Trenggiling ini menyimpan banyak sekali manfaat bagi manusia. Baik daging maupun sisiknya, semuanya memiliki kandungan manfaatnya masing-masing.

Sebagai Obat Berbagai Penyakit

Trenggiling memiliki daging yang dipercaya dapat mengobati berbagai jenis penyakit. Dagingnya sering diolah menjadi obat bagi penyakit paru-paru dan penyakit jantung. Tak hanya itu, daging Trenggiling pun dapat dijadikan sebagai obat kuat.

Sisik yang menempel pada tubuh Trenggiling juga dapat diolah menjadi salah satu bahan baku dalam pembuatan obat analgestik. Obat analgestik merupakan obat yang biasa digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri, terutama rasa nyeri tatkala usai menjalani oprasi.

Namun sayangnya, sisik Trenggiling juga kadang kala digunakan sebagai hal yang negatif.

Leave a Reply