Senang Susah Bareng Batur Sampah (Part II)

Kajian bersama batur sampah di wilayah wifi gratispun harus terhenti. Pun sama halnya dengan sekedar perkumpulan-perkumpulan kecil tak berarti yang semakin hari semakin jarang terjadi. Yaa itu semua karena kompisisi dari sembilan kelas yang ada diacak kembali dan entah apa maksudnya. Namun biar begitu, untungnya masih ada kegiatan-kegiatan yang bisa mengumpulkan anggota organisasi tak berizin ini.

Baso Pak Min, Semangkuk Baso Sejuta Arti

www.konfrontasi.com

www.konfrontasi.com

Begitulah kira-kira gelar yang tepat dari kenikmatan semangkuk basonya. Bagaimana tidak? Tak hanya sudah menjadikan aku sebagai pelanggan setianya, markas pusat baso ini pun juga telah menjadi tempat paling efektif untuk mengumpulkan anak-anak batur sampah.

Aku juga tak begitu paham, kenapa dengan sendirinya aku dan juga batur sampah menjadi pelanggan setia baso ini. Sejak pertama kali anak-anak batur sampah berkumpul, baso ini sudah menjadi menu makanan sehari-hari kami.

Soal rasa, beuh bukan main rasanya. Bahkan bisa dibilang ini adalah baso yang menurutku paling memuaskan di daerah Cirebon. Hanya bermodalkan lima ribu rupiah saja, perut kenyang, hati pun senang. Apalagi tak jarang ada tambahan bonus tulang belulang bekas kaldu yang dikhususkan bagi pelanggan setianya. Hanya menulis teks artikel ini sambil membayangkannya saja, air liurku sudah keluar tanpa intruksi.

Tak selamanya berbayar, ada kalanya baso ini bisa dinikmati secara gratis. Yaa, itu ketika ada salah satu dari kami yang kebetulan sedang punya kelebihan rezeki atau ketika ada yang kebetulan sedang berulang tahun. Dan di sinilah puncak kenikmatan baso Pak Min terasa, selain karena rasanya yang nikmat, ada yang menanggung biayanya pula. Dasar batur sampah.

Selamat Ulang Tahun

pixabay

pixabay

Selain berkumpul sambil menikmati lezatnya baso, kami batur sampah pun terkadang menyempatkan diri untuk merayakan ulang tahun anggotanya. Yaa mungkin lebih tepatnya penyiksaan di hari ulang tahun.

Kami batur sampah memang sering kali melakukan kegiatan ini. Bersama dengan beberapa sahabat-sahabatku dari golongan perempuan, acara ini pun bisa terlaksana. Sedikit menyimpang dari tema, anak-anak batur sampah juga akrab dengan salah satu golongan anak-anak perempuan di sekolah kami. Dan biasanya, batur sampah dan golongan perempuan ini hampir selalu berkumpul ketika ada acara pembulian di kala salah seorang di antara kami yang sedang berulang tahun.

Kembali ke topik utama tadi. Pun sama halnya denganku, di tahun terakhir bersama mereka, aku bersama dua orang lainnya menjadi ojek pembulian mereka. Ulang tahun yang kebetulan hanya berselisih dua hari setiap orangnya, ternyata mempermudah terlaksananya acara ini.

Entah kenapa, di hari dimana pembantaian dimulai, aku tak menyadari ajakan mereka yang kala itu mengajakku untuk ikut membuli salah satu temanku yang sudah berulang tahun empat hari sebelumku. Karena memang biasanya juga ikut serta, pastinya aku meng-iyakan saja.

Baru ketika sepulang sekolah, ketika sudah berada di tempat kejadian perkara, aku baru menyadarinya. “pasti kena dah” keluhku dalam hati. Tapi mau bagaimana lagi? Lebih baik kali ini pasrah pada nasib. Aku sengaja melepaskan jaket dan sepatuku sebagai rangka berjaga-jaga sebelum semuanya basah terkena telur dan tepung.

Benar saja, bahkan dari ketiga korban, akulah yang menjadi objek pertama mereka. Yang di luar dugaanku, ternyata kali ini bukan sekedar telur dan tepung yang berdatangan bak lontaran peluru dalam peperangan, tapi tubuhku diikat kuat di depan umum dengan tambang pramuka. Masih belum puas, aku dimandikan juga dengan air selokan. Memang batur sampah, benar-benar sampah. Yaa tapi setidaknya itu semua akan menjadi suatu pengalaman tak terlupakan dalam hidupku ini.

Terima Kasih Kawan

pixabay

pixabay

Pertemuan dan perpisahan, semua itu adalah sesuatu yang pastinya selalu kita alami. Pun sama halnya dengan organisasi tak berizin ini, batur sampah. Walaupun sebenarnya baru aku yang meninggalkan mereka, ini tetaplah sebuah perpisahan.

Dua bulan menjelang ujian nasional, aku pergi meninggalkan sekolah dan juga teman-temanku, tak terkecuali batur sampah ini. Semua itu ku tinggalkan hanya karena aku memilih kembali menjadi seseorang bergelar santri. Konyol memang, tapi itulah pilihan hidupku.

Tadinya hanya batur sampah yang mengetahui rencana kepergianku ini, tapi perlahan-lahan berita ini mulai menyebar hingga diketahui juga oleh sahabat-sahabatku dari golongan perempuan. Reaksinya, tentu pasti heran dan juga kaget. Bagaimana tidak? Kala itu ujian nasional hanya tinggal dua bulan lagi.
Sehari menjelang kepergianku, aku kedatangan tamu spesial. Ya, itulah mereka, batur sampah dan juga sahabat-sahabatku dari kalangan perempuan. Dalam rangka perpisahan, sepulang sekolah, semuanya berkumpul di rumahku. Padahal hari itu aku sudah meliburkan diri dari sekolah.

Bermodalkan soun dan cireng, pesta makan kecil-kecilan yang mungkin terakhir kalinya itu dimulai. Sangat berbeda dengan golongan kaum hawa yang makan dengan perlahan dan bergaya sok imut-imutan, batur sampah bahkan sudah seperti menganggap rumahku ini seperti rumah sendiri. Namanya juga batur sampah, tak apalah, karena biasanya juga seperti itulah yang ku lakukan di rumah mereka.

Di akhir acara pesta cireng ini, sesaat sebelum mereka pulang, mereka memberiku sebuah kenang-kenangan, sebuah jam tangan. Mungkin karena mereka mengetahui kalau aku tak memiliki jam tangan mereka memberikan ini padaku, hahaha. Tak apalah, aku tak melihat materinya, apa pun itu pasti akan ku terima dan ku simpan. Yaa, itu semua karena kenangan yang berada di dalamnya. Setiap kali aku memakainya, aku teringat sejuta cerita bersama mereka. Terima kasih kawan, bagiku ini lebih dari sekedar cukup.

***

Dasar batur sampah. Teman yang ku anggap lebih dari sekedar teman. Hanya saja sayangnya aku harus pergi lebih awal meninggalkan mereka. Entah kapan aku akan kembali bertemu dengan mereka semua. Teruntuk sahabatku sebangsa batur sampah, Adit, Deni, Zaid, Merdi, Rere, Youvan, Lola, Sakinah, Fetty, Kiki, dan Anti. Ku harap suatu saat nanti kita akan kembali bertemu yang entah kapan itu. Semoga saja.

Leave a Reply