Senang Susah Bareng Batur Sampah (Part I)

Batur sampah (teman sampah), mungkin yang pertama kali terlintas dalam pikiran adalah sebuah umpatan bagi seorang teman. Namun bagiku, kelompok kata itu mengingatkanku dengan sesuatu yang terkenang. Yaa, mereka adalah sahabat-sahabatku, yang menyebut dirinya sendiri dengan julukan “batur sampah”.

Bisa dibilang ini adalah sebuah penyimpangan dari penggunaan bahasa yang baik dan benar. Namun kalau boleh jujur, sering kali kelakuan mereka memanglah seperti sampah, dan itupun berlaku bagiku, hahaha.

Menurutku, definisi seorang sahabat bukanlah sebatas teman yang dekat dengan kita semata. Tapi mereka adalah orang-orang yang memang merasa dekat, akrab, berani mengungkapkan segala sifat aslinya, dan pastinya selalu untuk kita walau kita sedang berada dalam keadaan terpuruk sekali pun. Dan karena itu lah komunitas tak berizin ini memilih istilah “batur sampah” sebagai namanya.

MTM Yohhh

pixabay

pixabay

Satu lagi istilah aneh yang biasa anak-anak batur sampah biasa ucapkan. “MTM, apaan tuh??” kira-kira seperti itulah yang orang pikirkan ketika pertama kali mendengar istilah ini. Ya, MTM itu hanyalah sebuah singkatan dari bahasa Cirebon “Mendi Ta Mendi” yang artinya kemana atau kemana. Tentu saja maksudnya adalah jalan-jalan tanpa arah dan tujuan sepulang sekolah.

Dulu, dulu sekali, di saat komunitas ilegal ini baru saja dibentuk yang bahkan istilah “Batur Sampah” belum pernah terpikirkan, mungkin hampir setiap hari sepulang sekolah acara MTM ini selalu diadakan. Kemana? Ke mall kah? Ke cafe kah? Boro-boro ke sana, istilah MTM saja jelas-jelas sudah menggambarkan kondisi batur sampah yang berdompet tipis ini. *eh…

Yaa, karena definisi aslinya adalah jalan-jalan tanpa arah dan tujuan, tempat apa pun bisa kami kunjungi. Mulai dari pasar Kanoman yang tak ada bedanya dengan pasar-pasar tradisional pada umumnya, pasar ayam sebagai sasaran utama pencarian hewan peliharaan yang bahkan tak jarang menjual hewan-hewan langka, pasar maling sebagai pusat pembelian onderdil motor bekasan, kali di daerah Grenjeng sebagai tempat cuci motor gratis, para pedagang kaki lima di pinggir jalan, bahkan hanya sebatas ngadem ke atas jembatan tol saja bisa menjadi tujuan perjalanan ini. Tapi, berhubungan sering terjadi kendala di bagian dompet dan sejenisnya, rumah anggota batur sampah pun bisa menjadi sebuah tujuan yang menarik. Yaa tentunya karena sering kali ada makanan-makanan gratis tersedia juga.

Bisnis yang Tak Pernah Menjanjikan

pixabay

pixabay

Entah bosan atau apa lah, aku dan juga sahabat-sahabatku sesama batur sampah mulai mengurangi kebiasaan MTM kami. Namun apa yang akan dilakukan setelah ini? Nongkrong? Yaa berhubungan aku bukan karakter orang yang senang nongkrong mana bisa match dengan kegiatan seperti itu.

Sampai tibalah dimana tugas bisnis menungguku. Diawali dengan berjualan kue di sekolah yang tadinya hanyalah sebuah tugas mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan, batur sampah pun memulai bisnis ini.

Awalnya, uang berdatangan bersama perasaan bangga. “bisnisnya menjanjikan juga nih” pikirku dalam hati. Namun hanya selang beberapa hari saja, para pelanggan hilang entah kemana. Mungkin itu semua karena mereka sudah mulai merasa bosan dengan penawaran ini.

Setelah berpikir panjang dan hasil diskusi para anggota komunitas ilegal ini, diputuskanlah untuk berganti profesi menjadi tukang es. Dengan kondisi cuaca Kota Cirebon yang berasa seperti dipanggang setiap hari, ternyata mendukung penjualan es ini. Usaha ini ternyata lebih cocok ketimbang usaha-usaha sebelumnya. Pun sama halnya dengan peminatnya yang selalu berlangganan seperti tak punya rasa bosan.

Soal penjualan, oke lah usaha ini memang nyaris tak pernah kehabisan peminatnya. Bahkan setelah ajal menjemputnya pun masih dikejar oleh pelanggannya. Tapi masalah lain terjadi, masalah yang telah membuat usaha ini tak pernah menghasilkan keuntungan bagi kami. Ya, tangan-tangan nakal mulai beraksi. Memang es yang aku dan sahabat-sahabatku jual ini selalu habis setiap harinya, tapi bukan karena laku terjual, melainkan karena itu lah, paham sendiri kan?

Sampai akhirnya bisnis ini pun terhenti. Sudah tak ada lagi semangat untuk berjualan di lingkungan tangan-tangan tak bertanggung jawab seperti ini. Yaa, mungkin suatu hari nanti, saham batur sampah akan kembali terkumpul untuk sebuah bisnis yang jauh lebih menjanjikan.

Manusia-Manusia WiFi

www.harkiratparas.com

www.harkiratparas.com

Selain MTM dan menderita dalam dunia bisnis, kami para batur sampah memiliki hobi lain yang cukup unik dan menarik. Yaa walaupun pada dasarnya semua itu karena kondisi dompet yang tipis tak berisi.

Mencari wifi gratis, itulah hobi kami. Karena jatah kuota internet yang tak pernah mencukupi kebutuhan sehari-hari yang entah apa itu, dimana pun ada wifi, di sana ada kami. Mulai dari wifi di seluruh pojok sekolah, sampai wifi di rumah salah seorang anggota komunitas ilegal ini *eh, semuanya pernah kami cicipi, yaa tentunya termasuk diriku sendiri.

Tak sekedar mencari tempat-tempat penyedia wifi gratis, cara-cara lain pun terkadang digunakan agar selalu terhubung dengan dunia internet tanpa biaya. Salah satunya adalah dengan mengoleksi ratusan ID dan password wifi.id yang entah dari mana asalnya. Namun itu juga bergantung pada keberuntungan masing-masing karena sering kali ID dan password sudah tak lagi aktif.

Tapi pada akhirnya kebiasaan ini pun terhenti juga. Selain karena sumber-sumber wifi di sekolahku ini semakin sering tak bisa dihubungkan, batur sampah pun semakin jarang berkumpul. Yaa itu semua karena ada perubahan anggota kelas di kala kenaikan kelas terakhir.

***bersambung***

Leave a Reply