Sebuah Ikatan Ala Santri (Part I)

Pesantren ya? Sebuah tempat terkurung lagi membosankan yang pastinya identik dengan belajar agama. Seperti itulah kira-kira bayanganku sebelum memutuskan untuk mencobanya. Bukannya anti dengan sistem pendidikan di sana, hanya saja kala itu aku belum mengetahui fenomena-fenomena langka yang mungkin hanya bisa dirasakan oleh seseorang bergelar santri. Maklum, namanya juga anak SD yang belum berpengalaman.

Namun pemikiran ku seolah-olah berubah seratus delapan puluh derajat ketika aku mendaftarkan diri di salah satu pesantren tahfidz. Yaa walaupun niat awalnya hanya karena gengsi dengan teman-temanku yang rata-rata melanjutkan pendidikan ke pesantren.

Selamat Tinggal Rumah, Salam Kenal Asrama

pixabay

pixabay

Al-Hikmah, pesantren tahfidz yang terletak di perbatasan Cirebon-Majalengka dan membelakangi Gunung Kuda itu menjadi pilihan pertama sekaligus pilihan terakhirku. Aku juga tak begitu ingat kenapa aku memilihnya, namun pilihanku itu menjadi awal dari sejarah penting dalam hidupku.

Hari itu pun tiba, hari dimana aku memulai kehidupan baru sebagai seorang santri. Setelah semua persiapan selesai, aku memulai keberangkatanku menuju dunia baru yang akan ku tinggali. Namun sayangnya, kala itu orang tuaku sedang ada keperluan sehingga hanya sebatas mengantarku saja.

Benar saja, setibanya ku di sana, semua santri baru masih berkumpul dengan keluarga mereka. Aku yang tak ditemani orang tua hanya bisa terdiam dan melamun di atas ranjang kasur asrama, sampai akhirnya ada yang menawarkan pisang molen kepadaku. Ya, dia adalah teman pertamaku.

Perang Saudara

pixabay

pixabay

Hari demi hari silih berganti. Perlahan tapi pasti, aku yang bisa dibilang pemalu ini mulai mengenal saudara-saudara baruku sesama angkatan tiga belas di sini. Berbagai macam karakter dari mereka pun mulai terlihat. Namun lahirnya perbedaan karakter di kalangan para santri baru ternyata memicu terjadinya perpecahan.

Sebelum dikenalnya istilah “solidaritas”, konflik panas antar empat kamar sering kali terjadi. Tak jarang konflik hanya dipicu oleh masalah-masalah sepele, mulai dari makan makanan sendirian sampai masalah buang sampah seenaknya.

Dari keempat kamar, kamarku, Utsman empat lah yang paling dijadikan sasaran mata panah pertempuran. Kamar dengan kompisisi santri yang kala itu cenderung mementingkan keinginan pribadi dan dikenal manja, membuat kamarku ini semakin menjadi target dari ketiga kamar lainnya. Tak jarang awak kamarku ini mendapatkan teror dari kamar-kamar tetangga, baik serangan secara fisik maupun psikis.

Saking seringnya mendapat teror, akhirnya dapat menyadarkanku juga teman-teman sekamarku akan kesalahannya. Aku dan teman-temanku mulai membiasakan diri untuk mementingkan kepentingan bersama lebih dulu.

Perubahan yang aku dan teman-temanku lakukan ternyata cukup membawa dampak positif. Respon baik berdatangan dari tetangga sebelah. Kamarku kemudian membentuk sebuah aliansi perdamaian dengan tetangga sebelah sesama kamar atas.

Melihat persekutuan yang kamar atas lakukan ternyata berpengaruh juga bagi kamar bawah. Sepertinya saat ini kamar bawah juga sudah hampir tak ada perselisihan karena hal sepele. Dan ini pula yang menjadi awal dari perdamaian para santri di sini. Kali ini, perselisihan bukanlah lagi antar setiap kamar, melainkan dua kelompok besar, kamar atas versus kamar bawah.

Aliansi Santri Tiga Belas

pixabay

pixabay

Perselisihan, konflik, dan perpecahan, pada akhirnya semua itu hanya akan berakhir menjadi suatu hal yang sia-sia belaka. Semakin hari, para santri semakin menyadari akan pentingnya solidaritas antar sesama angkatan.

Bosan dengan konflik yang tak kunjung mereda, keempat kamar melakukan konverensi perdamaian untuk pertama kalinya. Namun istilah “solidaritas” masih belum juga bisa tercapai. Penentuan ketua angkatan tetap terbagi menjadi dua golongan, ketua kamar atas dan ketua kamar bawah.

Pun sama halnya pada penentuan nama angkatan yang tetap tidak mendapatkan kesepakatan. Berbagai usulan disarankan, namun penolakan selalu hadir di sana. Hingga diusulkannya sebuah nama. Nama yang mampu menyatukan keempat kamar dan satu angkatan itu. Nama yang tak begitu bermakna namun menyimpan jutaan cerita.

“Doble-T”, pada akhirnya nama angkatan itu telah disepakati. Perlahan tapi pasti, kata “solidaritas” pun mulai memiliki arti. Hingga terbentuklah sebuah ikatan kokoh tanpa perselisihan di angkatan ini.

***

Yaa, ini semua barulah sebuah permulaan dari cerita ini. Perjalananku menjadi seorang santri masih sangatlah panjang. Namun biarpun begitu, sebuah ikatan persaudaraan di kalangan para santri akhirnya mulai terbentuk dan cukup untuk menyelesaikan sebuah persilisihan yang nyaris tak berujung itu.

***bersambung***

Leave a Reply