Sebuah Ikatan Ala Santri (Part III)

Tahun terakhirku berada di tempat yang penuh dengan keberkahan ini telah tiba. Tiga tahun sudah aku menjalani kehidupan bersama saudara-saudaraku sesama santri, yang tak lama lagi akan terhenti. Seingatku, baru kemarin hari aku menapakkan kakiku ke tempat ini, namun kenyataannya aku justru sudah harus bersiap untuk melangkah pergi dari sini.

Perubahan Demi Sebuah Kelulusan

pixabay

pixabay

Tahun terakhir dalam dunia pendidikan sering kali identik dengan yang namanya ujian kelulusan. Pun sama halnya dengan pesantren yang ku tempati ini. Namun, sedikit berbeda dengan sekolah-sekolah pada umumnya, bukan hanya ujian nasional saja yang menjadi kegiatan menjelang kelulusan. Di pesantrenku ini ada juga tes setoran hafalan Al-Qur’an sebagai salah satu persyaratan wisuda di hari terakhir nanti.

Perubahan karakter pun mulai bermunculan di kalangan para santri angkatan tiga belas ini. Mungkin dalam rangka menyambut ujian-ujian kelulusan atau apa lah yang tak lama lagi ini, kebanyakan dari santri angkatan ini mulai merubah karakter mereka. Kebiasaan negatif seperti kebiasaan bolos membolos layaknya dahulu kala semakin jarang terjadi. Pun begitu kegiatan di malam hari di isi dengan belajar materi-materi pelajaran yang akan diujikan dalam ujian nasional nanti.

Soal hafalan Al-Qur’an pun tak ditinggalkan, banyak diantara kami para santri yang mulai semakin bersemangat menambah hafalan Al-Qur’annya. Bahkan hal itu juga mungkin berlaku bagi mereka yang bisa dibilang dulunya tak begitu bergairah dengan menghafal. Entah mengapa mereka mulai berhijrah ke arah yang lebih baik. Ya walaupun sebenarnya itu hanya berdasarkan pengamatanku saja.

Akhirnya Selesai Sudah

pixabay

pixabay

Hari-hari telah berlalu. Tibalah saatnya angkatan ini mulai menghadapi ujian yang berperan paling penting bagi kelulusan. Ujian nasional, kali ini dia sudah berada di depan mata menunggu proses eksekusi. Empat hari ke depan akan menjadi penentuan hasil pembelajaran tiga tahun ini. Adil kah? Tapi mau bagaimana pun, ini akan tetap menjadi fakta yang nyata di negara ini.

Hari pertama berjalan dengan lancar. Pun begitu dengan hari kedua, yaa walaupun kepala sudah mulai terasa panas dan mulai berasap. Di hari ketiga, terjadilah kejadian yang sangat langka bahkan dari seluruh sekolah di Indonesia sekalipun. Entah kenapa, seusai melaksanakan sholat subuh, hampir semua santri angkatan tiga belas melakukan kegiatan berjamaah. Tidur, yaa itulah yang angkatan ini lakukan.

Tepat pukul tujuh pagi, menjelang bel masuk, guru-guru mungkin merasa heran karena belum ada santri yang berangkat. Dan turunlah beberapa guru ke asrama para santri untuk memeriksanya. Kaget pastinya ketika mereka melihat kondisi para santri yang sedang khusuk belajar di alam mimpi. Langsung saja, dibangunkanlah semua santri yang kala itu masih terlelap dengan khusuk.

Begitu sadar, entah panik karena terlambat atau karena ada guru yang turun ke asrama, semua santri langsung cepat-cepat memakai seragam dan langsung berangkat menuju tempat eksekusi. Bahkan mungkin sebagian santri ada yang belum sempat menunaikan acara wajib mereka, yaitu sarapan dan mandi pagi. Tanpa banyak persiapan kami menjalani ujian dengan sedikit berberat hati.

Di hari keempat, hari terakhir aku dan teman-teman seangkatanku mengeksekusi soal-soal ujian nasional, kami mendapat masalah lain. Biasanya, yang namanya santri itu ketika kehabisan stok kebutuhan hidup sering kali mengandalkan teman atau generasi penerusnya. Namun di hari itu, persedian sabun semua santri angkatan ini tak ada yang tersisa satupun. Belum lagi ditambah dengan tidak adanya para generasi penerus yang kala itu dipulangkan ke rumah masing-masing dalam rangka libur ujian nasional.

Sempat bingung beberapa saat mencari-cari cara agar tetap bisa membersihkan diri. Akhirnya, daripada sama sekali tidak menunaikan acara wajib lagi untuk kedua kalinya, berbagai carapun terpaksa dilakukan. Mulai dari mandi dengan pembersih muka sampai mandi dengan sampo. Ya untung saja tidak ada ceritanya santri mandi menggunakan pasta gigi. Dasar santri, demi sebuah istilah yang disebut “kelulusan” hal sekonyol apapun rela dilakukan. Namun semua itu tidaklah sia-sia, setidaknya aku dan teman-teman seperguruan bisa melewati masa-masa itu.

Perjalanan Terakhir

pixabay

pixabay

Berakhirnya masa-masa sulit membuat kami para santri merasa butuh akan sebuah penyegaran. Selain itu, tak lama lagi semua santri yang berasal dari Sabang sampai Merauke ini akan terpisah kembali, bahkan diantaranya mungkin ada yang terpisah jauh di sana. Maka dari itu, sebuah perjalanan akhir tahun direncanakan.

Kota Solo, itulah kota tujuan perjalanan terakhir angkatan ini. Dengan biaya yang sangat murah untuk ukuran study tour atau apalah, perjalanan terakhir yang takkan pernah terlupakan ini dapat terlaksanakan dengan kondisi yang lebih dari sempurna. Bagiku bukan masalah kemana tujuannya, dimana penginapannya, apa makanannya, dan berapa biayanya, melainkan kebersamaan para santri di sinilah yang membuatnya terasa sangat sempurna.

Segala persiapan telah selesai. Setelah sholat isya berjamaah di masjid pesantren, perjalanan munuju kota kelahiran presiden ke tujuh ini pun dimulai. Mungkin karena di malam hari, perjalanan dari Kota Cirebon menuju Kota Solo yang memakan waktu berjam-jam itu tak begitu terasa. Di pagi harinya, posisi para santri yang tadinya di Kota Cirebon telah berpindah ke Kota Solo ini.

Sekitar tiga hari aku menikmati perjalan terakhir bersama angkatan tiga belas ini. Banyak cerita menarik yang mungkin takkan pernah terulang untuk kedua kalinya dalam perjalanan ini. Yaa, ini akan menjadi sebuah perjalanan menarik yang takkan pernah terlupakan dan sangat terkenang.

Sampai Jumpa di Lain Waktu Kawan

pixabay

pixabay

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, tak terasa aku sudah berada di atas garis finish dalam perjalanan tiga tahun bersama para santri di sini. Dimana ada sebuah pertemuan, perpisahan pasti selalu hadir di belakangnya. Memang kelulusan adalah suatu yang membahagiakan, tapi perpisahan menjadikan semua itu terasa berat, sangat berat.

Wisuda para hafidz dan hafidzoh Al-Qur’an menjadi acara terakhir bagi kami para santri angkatan ini. Semua yang telah menyelesaikan persyaratan akan diwisuda hari ini. Lebih dari setengah santri ikut berpartisipasi menjadi peserta di acara ini, menunjukan kepada dunia prestasi yang telah dilahirkan oleh pesantren ini.

Yaa, waktuku telah habis. Saatnya bagiku untuk kembali ke keluargaku yang telah menanti di rumah. Dengan berberat hari, ku tinggalkan kehidupanku dengan menyandang gelar seorang santri. Pun begitu dengan teman-temanku yang kali ini sudah terpencar ke seluruh pelosok negeri.

***

Tiga tahun aku hidup dalam kehidupan menjadi seorang santri. Banyak pengalaman tak terlupakan dan mungkin takkan tergantikan lagi. Perjalanan indah bersama para santri angkatan ini akan selalu terkenang di dalam hati. Yaa tentunya itu semua karena telah terciptanya sebuah ikatan solidaritas yang kokoh ala santri-santri di sini. Walaupun harus diawali dengan konflik-konflik pahit, setidaknya semua ini berakhir ketika ikatan yang sudah terbentuk.

2 Comments

  1. LuFaluay March 7, 2016
    • shiddieq March 7, 2016

Leave a Reply