Sebuah Ikatan Ala Santri (Part II)

Tak terasa, sudah setahun aku hidup dengan menyandang gelar sebagai seorang santri. Suka dan duka ku jalani bersama saudaraku sesama santri. Ikatan yang telah terbentuk kala itu semakin hari semakin kuat terikat. Walaupun terkadang konflik-konflik kecil tetap mungkin terjadi, tapi setidaknya bukanlah lagi konflik berkepanjangan layaknya dahulu kala.

Tahun ini adalah tahun keduaku berada di tempat yang penuh berkah ini. Tahun dimana para santri seangkatanku mulai mengalami masa-masa peralihan mereka. Jika setahun lalu diibaratkan sebagai masa kekanak-kanakan, maka tahun ini adalah masa remajanya.

Organisasi Setingkat OSIS

pixabay

pixabay

Bersikap sedikit dewasa, para santri angkatan tiga belas mulai terjun ke dalam dunia berorganisasi. Fasih, organisasi santri sekelas OSIS yang seperti biasa melakukan regenerasi jabatan ke angkatan selanjutnya. Kali ini, giliran angkatan tiga belaslah yang memegang jabatan dan kekuasaan.

Waktunya pun tiba. Empat orang santri terbaik dalam angkatan dicalonkan sebagai calon pemimpin organisasi ini. Melalui pesta demokrasi, para santri dipersilahkan untuk memilih pilihannya. Tak terkecuali diriku yang kala itu dengan sedikit berberat hati memilih sahabatku sendiri.

Tanpa buang-buang waktu, penghitungan suara pun dilakukan di hari yang sama. Suara demi suara dihitung dengan seksama hingga didapatlah hasil dari pesta demokrasi pemilihan pemimpin organisasi santri ini. Salah satu santri terbaik terpilih sebagai otak penggerak organisasi ini. Walaupun aku bukan termasuk yang memilihnya, namun menurutku dia memang layak menerima jabatan itu.

Struktur kepemimpinan pun dibentuk. Entah mengapa aku diberi wewenang untuk memimpin divisi tarbawy. Padahal kalau boleh jujur, ini adalah pertama kalinya aku ikut serta dalam suatu organisasi. Aku belum memiliki pengalaman sedikitpun dalam hal ini, apalagi sebagai seorang ketua divisi. Namun apa boleh buat, semua ini sudah menjadi keputusan. Lagi pula tak ada salahnya untuk mencoba.

Jabatan fasih akhirnya diregenerasikan secara resmi kepada angkatan tiga belas ini. Masa jabatan setahun ke depan di awali dengan sebuah rapat kerja campuran antara ikhwan dan akhwat yang bisa dibilang cukup jarang dalam fenomena kehidupan ala santri.

Bel Sekolah Berbunyi, Waktunya Tidur Pagi

pixabay

pixabay

Tak hanya aktif dalam berorganisasi, tahun ini pun menjadi masa-masa kelam dalam hidupku juga. Hampir setiap hari, para santri angkatan ini sering kali meliburkan diri saat jam sekolah dimulai. Entah setan apa yang mempengaruhiku sampai aku pun tak bisa menolak ajakannya.

Ini bukanlah sebuah tradisi turun-temurun yang memang biasa dilakukan oleh para santri. Hanya angkatan ini yang mungkin berani membolos satu angkatan penuh dan hampir setiap hari, itu saja. Angkatan sebelumku mungkin belum pernah melakukan hal serupa.

Untungnya kebiasaan buruk itu tak sampai berkelanjutan. Aku dan sahabat dekatku akhirnya mulai berani mencoba untuk memperbaiki diri. Yaa mungkin ini semua diawali karena sahabatku selalu ingin bertemu dengan seorang akhwat di perjalanan menuju ruang kelas. Tas hitam, itulah julukan akhwat itu karena aku maupun sahabatku belum mengenalnya.

Kembali berbicara soal kebiasaan bolos membolos para santri angkatan tiga belas. Kenaikan kelas pun tiba. Akhirnya tak hanya aku dan sahabatku saja, teman-temanku yang selalu mentradisikan bolos sekolah itupun akhirnya menyadari kesalahan mereka juga. Diakhiri dengan permintaan maaf kala pembagian rapot kepada semua guru di sana, tradisi buruk itupun dihapuskan.

***

Banyak pengalaman tak terlupakan yang ku alami di tempat berkah ini. Dan tentunya, semua ini ada baiknya dan ada pula buruknya karena pesantren bukanlah surga yang sudah sempurna. Namun tak mungkin juga kalau ku ceritakan semua pengalaman menarik ini. Bahkan aku sendiri membutuhkan waktu beberapa tahun untuk menjalaninya. Mungkin di lain waktu, akan kulanjutkan kisah menarik ini.

***bersambung***

Leave a Reply