Karena Ridho Orang Tua Gerbang dari Segalanya

Ketika seorang ibu menolak keinginan anaknya, bukan berarti ia memutuskan tanpa sebab yang nyata. Boleh saja terkadang itu tak masuk akal. Namun percayalah, di balik itu semua terdapat sejuta makna yang tak pernah terlintas dalam jiwa.

Ini bukanlah dongeng belaka, melainkan sebuah perjalanan yang terinspirasi dari kisah nyata. Ketika seorang wanita pendakwah mengalami masa-masa terpuruk akibat melupakan ketaatan pada orang tuanya, bahkan seorang konsultan keluarga pun nyaris tak percaya.

Bayangkan saja, perjuangan menebar kebaikan yang ia lakukan tak dapat membendung musibah padanya. Padahal ia bukanlah seorang pendosa, ia hanya “pernah” tak menuruti kemauan orang tuanya semata.

Kisah ini dimulai beberapa tahun silam. Dialami orang seorang gadis berparas cantik nan kaya. Bahkan dia pun memiliki tekad kuat dalam berdakwah di jalan-Nya. Siapa pula seorang pria yang tak tertarik padanya?

Kisah ini dimulai kala ia menjalani kehidupan sebagai seorang mahasiswi di suatu universitas ternama negeri ini. Sebut saja namanya Fulanah. Dia bukan seorang mahasiswi biasa, melainkan seorang yang memiliki power di sana.

Ya, power sebagai seorang aktifis muslimah yang senantiasa berada dalam suasana dakwah dan berbagai kegiatan islami lainnya. Ia selalu diundang sebagai pembicara. Hal itu tak lain karena kapasitas ilmunya yang tak perlu diragukan lagi.

Namun sayang, parasnya yang cantik menjadi salah satu kendalanya dalam berdakwah. Tak jarang banyak pria “nakal” dan “berotak lendir” menggodanya. Sungguh ironi, namun ini tentu merupakan sebuah cobaan dari-Nya.

Seiring berjalannya waktu, godaan itu semakin mempengaruhi pikirannya. Godaan itu semakin parah menghantuinya. Yang tadinya hanya sebatas SMS menjadi sapaan di dunia nyata, yang tadinya semata merayu fisiknya menjadi ajakan “bermain” bersama.

Ajakan, rayuan, serta godaan yang bertubi-tubi datang kepadanya membuat ia pun terpengaruh olehnya. Tiap kali godaan itu datang, ia mulai memikirkan “kenikmatannya”. Namun keteguhan iman tetap menjadi benteng terkuat menghadangnya dari perilaku dosa.

Nikah, mungkin itulah satu-satunya jawaban terbaik baginya. Bagaimana juga, seorang suami akan lebih menjaganya dari para pria penggoda. Bahkan mungkin itu bukan sebatas jawaban, melainkan sudah berubah menjadi sebuah kewajiban yang harus ia lakukan.

Bertemulah Fulanah dengan seorang pria yang juga pendakwah sepertinya. Ia ‘alim, ‘abid, tampan, dan kaya. Namun sayang sang calon suami tadi belum bisa menikah dalam waktu dekat ini. Kesibukannya menjadi kendala utama dalam hal ini.

Bimbang sudah hatinya. Ketika bertemu seorang yang ia rasa dapat menjaga dirinya, ternyata itu tak bisa menjadi realita. Mencari dan mencari pengganti, namun Fulanah tak kunjung mendapatkan calon pendamping yang cocok untuk dirinya lagi.

Hingga berjumpalah ia dengan seseorang yang hampir sama dengan kriteria pria sebelumnya. Hanya saja, pria kali ini memiliki satu kekurangan. Ya, dia tak lebih kaya dari pria sebelumnya. Bukan, bahkan dia seorang pria miskin yang tak memiliki apa-apa.

Spontan respon orang tua berbeda dari apa yang diharapkan. Kedua orang tua Fulanah menolak pria yang diminta untuk melamarnya. Mereka berdua tentu khawatir akan kehidupan selanjutnya. Bagaimana bisa pria tadi memberikan nafkah yang cukup sedangkan mengurus diri sendiri saja tak bisa?

Sejak saat inilah musibah baru dimulai. Fulanah kukuh dengan keinginannya karena khawatir dengan pria-pria “berotak lendir” yang terus menggodanya. Hingga akhirnya orang tuanya terpaksa mengizikan, namun dengan kondisi hati yang belum meridhoi.

Di awal pernikahan, musibah ini belum terasa. Keduanya masih bisa berbahagia bersama. Tak terlihat mereka hidup seadanya. Suami Fulanah bahkan mampu memenuhi keinginannya. Berbeda dengan apa yang dikhawatirkan orang tuanya.

Selang beberapa tahun setelah pernikahan mereka berlangsung, akhirnya musibah ini barulah datang menghantam. Seolah-olah ada batu besar yang jatuh menimpa. Kebahagiaan mereka berdua hancur seketika.

Hari itu adalah hari dimana Fulanah baru mengetahui bahwa suaminya belum memiliki pekerjaan. Apa-apa yang selama ini ia berikan kepadanya hanyalah bersumber dari hutang dan hutang semata. Dan kala hutang tersebut diminta, selesailah sudah kebahagiaan mereka.

Marah, sedih, kecewa, perasaan tersebut berkecemuk dahsyat di hati Fulanah. Sang suami hanya bisa menelan pahit kemarah istrinya. Bahkan kemarahan itu memuncak hingga suatu ketika Fulanah suaminya meninggal dunia agar ia bisa menikah dengan pria yang lebih mapan.

Pun sama dengan yang dirasakan oleh pihak keluarga. Mereka marah besar kepada suami Fulanah. Hingga suatu ketika sang ibu bertanya “Kamu masih mau sama dia?”. Dengan berat hati Fulanah hanya bisa mengiyakan, bahkan dalam kondisi yang penuh dengan amarah.

Jawaban Fulanah kembali membuat sang ibu teriris hatinya. Keesokan harinya ibu Fulanah kabur dari rumah dan entah kemana. Ayahnya pun sedikit menggila karena kehilangan istri tercintanya. Musibah ini terus berdatangan secara bertubi-tubi kepada Fulanah.

Entah apa yang mereka alami saat ini. Apa musibah ini sudah selesai atau justru semakin parah melanda? Entahlah. Namun yang pasti, ini menjadi pengalaman bermakna bagi Fulanah tentang betapa pentingnya ridho orang tua.

***

Kawan, itulah yang akan terjadi jika kita menentang keinginan orang tua, terutama ibu kita. Ketika orang tua kita tidak meridhoi kita, niscaya Allah Azza Wa Jalla pun akan sama. Karena baginda Rasulullah SAW pernah bersabda :

رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua

(Hasan. at-Tirmidzi : 1899,  HR. al-Hakim : 7249, ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabiir : 14368, al-Bazzar : 2394).

Leave a Reply