Ini Kisah Nyata! Neraka Jahannam Hanya 300 KM di Depan Mata

Sebuah kisah nyata yang amat menyentuh hati. Entah seperti apa yang ada dalam pikiran kita jika mengalami kisah seperti ini. Innalillahi…

Sebuah kisah nyata yang diceritakan oleh Abu Khalid Al Jadawi. Mengisahkan tentang salah seorang pemuda kenalannya. Bukan main mengerikannya.

Andai kata kau merasakan apa yang terjadi pada pemuda ini, niscaya engkau akan segera menangisi diri. Meminta ampun kepada Sang Illahi, atas segala maksiat yang telah kau lalui.

Sang pemuda tadi menceritakan pengalaman menegangkan ini. Masa mudanya selalu ia habiskan dalam gelora maksiat dan dosa. Bersama-sama teman-teman tak berakhlaq lainnya.

***

Pergi ke Dammam

Sumber : Www.IrishTimes.Com

“Wallahi, tidak ada satu pun Illah yang benar selain Dia. Dulu hidupku hanya dihiasi oleh teman-temanku. Sama sekali tak ada niatan dalam diriku untuk taat kepada Allah SWT, walaupun hanya sebatas untuk shalat atau bahkan yang lain”. Curhat Sang Pemuda seraya ketakutan memikirkan masa lalunya.

Sama seperti kebanyakan para pemuda, suatu ketika aku bersama teman-temanku pergi ke suatu kota di Saudi Arabia, tanpa niatan sedikit pun untuk melakukan ketaan pada-Nya. Kota Dammam namanya.

Seiring perjalanan, akhirnya kami berpapasan dengan sebuah marka petunjuk jalan. Spontan teman-temanku seluruhnya membaca “Dammam, 300 Km”.

Namun ada yang aneh di sini. Tak seperti teman-temanku seluruhnya, yang aku berbaca jelas berbeda dan membuat hati ini berdegup kecang. “Jahannam, 300 Km” Teriakku panik pada teman-temanku.

Mereka pun hanya duduk sembari mentertawakanku. Aku berani bersumpah atas hal itu, namun seluruh teman-temanku tak ada yang mempercayaiku. Maka mereka pun hanya membiarkan dan menganggapku seorang pembohong belaka.

Canda dan tawa dari teman-temanku tak ada hentinya. Mereka tertawa dengan begitu tenangnya, sedangkan aku hanya bisa merenungi apa yang barusan ku lihat dengan mata kepalaku seorang diri.

Beberapa waktu kemudian, kami berpapasan kembali dengan marka jalan lainnya. “Dammam 200 km” kata mereka lagi. Kuucapkan sekali lagi “Jahannam 200 Km!”. Mereka tak sedikit pun mempercayaiku, bahkan menganggapku gila.

Aku kukuh dengan pendirianku “Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang haq selain Dia, sesungguhnya aku melihatnya bertuliskan Jahannam, 200 km”. Namun jawaban mereka tetap sama, tertawa sembari berkata “Diamlah, kamu membuat kami takut”.

Aku pun hanya bisa terduduk diam dalam keadaan gelisah. Bergetar hatiku merasakan keheranan akan kejadian aneh yang ku alami ini. Takut, tegang, khawatir tentunya. Sedangkan mereka terus berada dalam gelak tawanya.

Untuk yang ketiga kalinya, berjumpa lagi lah kami dengan marka petunjuk jalan yang ketiga. “Tinggal sebentar lagi, Dammam 100 Km” kata teman-temanku.

Aku katakan dengan penuh ketakutan dan sumpah “Wallahi, Tuhan yang Maha Agung, aku melihatnya Jahannam 100 Km”. Namun mereka malah berkata “Tinggalkanlah kebohonganmu itu, engkau hanya menyakiti hati kami selama perjalanan ini”.

Tanpa pikir panjang lagi dan dihantui oleh ketakutan yang semakin menjadi-jadi, aku berkata “Turunkan aku, aku ingin kembali! Aku tak ingin menyelesaikan perjalanan ini lagi”.

Seraya menganggapku sudah gila, mereka akhirnya menurunkanku. Aku berpaling dari kota tujuanku, kemudian terdiam menunggu mobil yang bersedia mengantarkanku.

Sampai datanglah seorang supir tua yang bersedia mengantarkanku. Namun kala itu dia hanya terdiam, seolah-olah sedang berada dalam perasaan sedih dan takut. Aku putuskan untuk bertanya “Kenapa Anda diam dan terlihat sedih?”

Maka dia menjawabku “Sungguh, saat ini aku masih terbayang-bayang oleh sebuah kecelakaan dahsyat yang barusan ku lihat. Sepanjang hidupku, aku belum pernah melihat kecelakaan yang lebih buruk dari ini”.

Karena penasaran, aku bertanya kembali “Apakah mereka sebuah keluarga? Atau apa?” Kemudian dia menjawabku “Mereka adalah sekumpulan pemuda, tidak ada satu pun dari mereka yang selamat”.

Dia kemudian menjelaskannya secara terperinci, hingga aku pun menyadari satu hal, kecelakaan itu dialami oleh teman-temanku tadi. Bapak tua yang mengantarkanku bahkan berani bersumpah dengan nama Allah atas kejadian yang ia lihatnya sendiri.

Di sini aku sadar, Allah SWT telah mencabut ruh daripada teman-temanku tak lama setelah aku memutuskan untuk memisahkan diri dari mereka. Sungguh Dia telah memberiku suatu pelajaran berharga dalam hidupku.

Ku basahi lidahku ini dengan zikir memuji Tuhanku yang baru saja menyelamatkanku dari kecelakaan dahsyat tadi. Sejak itulah aku kembali, meminta ampun atas segala dosa yang pernah ku lakukan kemarin hari, dan bertekad untuk tidak pernah melakukannya lagi.

***

Penulis cerita ini, yakni Syaikh Abu Khalid al-Jadawi berkata: “Sungguh pemuda dalam kisah ini menjadi pemuda yang baik. Dalam dirinya terdapat ciri kebaikan. Usai kehilangan teman-temannya di kisah ini, dia bertaubat kepada Sang Illahi dengan taubat yang murni”.

Wahai kawanku, apakah engkau akan menunggu kehilangan teman-temanmu sampai tibalah di sebuah perjalanan seperti ini? Hanya tak lain supaya engkau bisa mengambil pelajaran darinya?

Andai kau tahu wahai kawanku, bahwa terkadang bukan engkau yang bertaubat karena sebab kematian teman-temanmu. Melainkan engkaulah yang menjadi pintu taubat teman-temanmu atas segala maksiat dan kerusakan. Na’udzu billah

Leave a Reply