Hidup Seperti Keluarga Daud yang Bekerja untuk Bersyukur

Terhitung sudah delapan belas tahun yang lalu sejak saya dilahirkan ke muka bumi ini. Saya terlahir sebagai anak pertama dalam sebuah keluarga yang pemahaman terhadap agamanya cukup tinggi. Abubakar Ash Shiddieq, nama yang 100% copy paste dari salah seorang sahabat nabi sekaligus khalifah pertama itu dianugerhakan kepada saya. Orang tua saya selalu bilang kalau nama itu diberikan dengan harapan agar banyak sifat dari Sang khalifah pertama itu pun ikut ter- copy paste ke dalam kepribadian saya. Namun pada realiatinya saya masih harus banyak melakukan perbaikan diri untuk mencapai harapan itu.

Pada dasarnya, keluarga saya hanyalah sebuah keluarga besar dengan keseharian yang sederhana-sederhana saja. Tak jarang saya dan keluarga bisa menikmati nikmatnya oseng-oseng mercon atau makanan ala resto berbintang, namun tak jarang pula kami harus makan dengan makanan yang lebih spesial seperti kacang goreng, telur seperempat kilo untuk sepasang orang tua dan enam orang anak, atau bahkan dengan yang lebih spesial lagi yaitu nasi dan garam. Namanya juga kehidupan yang senantiasa berputar layaknya roda, ada kalanya kita berada di atas dan ada kalanya pula kita menginjak kotoran ayam. Namun semua itu tetap bisa dinikmati selama kita masih mau bersyukur atas nikmat-Nya.

Berbicara soal rasa syukur, kebetulan saya punya banyak pengalaman bersama keluarga yang sudah semestinya selalu diiringi rasa syukur. Mulai dari kenangan ketika tinggal di Bandung sampai saya dan keluarga memulai kehidupan baru di kota Cirebon.

Menghabiskan Masa Kecil di Bandung

Sedikit terlintas dipikiran saya tentang kenangan-kenangan masa lalu ketika saya masih belum memiliki tanggungan akan dosa-dosa. Saya menghabiskan masa kecil saya di daerah Margahayu Raya bersama orang tua, Aki, Enin, dan juga Paman saya. Ada beberapa kenangan yang samar-samar masih sedikit saya ingat dari masa kecil saya, salah satunya adalah kenangan mainan favorit saya.

Namanya juga anak kecil, sering kali memiliki mainan favorit yang selalu ingin dibawa-bawa kapan pun dan dimana pun. Pun begitu pada saya, saya memiliki sebuah mainan yang sangat saya senangi, yaitu sebuah gayung berbentuk “love”. Walaupun secara fungsional benda tersebut bukanlah sebuah mainan, tapi hukum tersebut tak berlaku bagi saya. Tak hanya sekedar membawanya, saya juga sering kali menggunakannya untuk memukuli orang-orang disekitar saya. Yaa kenangan ini adalah kenangan ketika saya berumur di bawah tiga tahun, karena itu tidak banyak kenangan-kenangan yang saya ingat di masa-masa itu, bahkan tentang gayung itu sekali pun.

Di semester kedua tahun 2000, umi saya melahirkan anak keduanya, Yumna namanya. Pun sama pada hal ini juga tak banyak yang bisa saya ingat karena saat itu saya masih berumur tiga tahun. Selang setahun dari kelahiran Yumna, umi saya melahirkan lagi anak ketiganya, Ibrohim. Namun sayangnya, adik kedua saya ini tak bisa berlama-lama menikmati kehidupan di dunia ini. Belum sehari dia dilahirkan, dia sudah dipanggil kembali oleh Sang Pencipta. Yaa namanya juga umur, tak ada seorang pun yang mengetahui kapan dan dimana akan berakhir. Banyak orang yang meninggal di usia tuanya, tapi tak jarang juga yang sudah meninggal di usianya yang masih sangat muda, seperti adikku ini.

Kehidupan Baru di Cirebon

Persis sebelum saya memulai kehidupan baru sebagai siswa sekolah dasar, saya sekeluarga hijrah dari kota kembang ke kota udang. Kala itu, orang tua saya masih mengontrak sebuah rumah di daerah Majasem. Pohon mangganya yang besar membuat saya cukup merasa nyaman tinggal di sana. Apalagi ketika sudah mulai memasuki musim mangga, pohon besar itu berbuah lebat dan rasanya pun tak kalah nikmat. Beberapa kali pernah datang orang yang menawarkan untuk membeli mangga-mangga itu, namun orang tua saya lebih memilih untuk membagikannya kepada tetangga sekitar.

Soal sekolah, orang tua saya mendaftarkan saya di SDIT Sabilul Huda yang saat ini sekolah tersebut bisa dibilang merupakan salah satu sekolah dasar favorit di kota Cirebon. Saya sendiri merasakan perkembangan sekolah tersebut dari zaman dulu kala sebelum terkenal hingga mencapai masa kejayaannya.

Setiap libur panjang sekolah, keluarga saya selalu mudik ke Bandung untuk bertemu keluarga besar yang ada di sana. Setiap pulang kampung ke Bandung, saya dan juga adik-adik saya mendadak memiliki penghasilan sendiri. Dalam durasi sekitar dua pekan berada di sana, tak jarang saya dan adik-adik saya mendapatkan penghasilan di atas lima ratus ribu. Ya sebenarnya itu uang pemberian kakek, nenek, dan juga saudara-saudara saya di Bandung. Saat kembali lagi ke kota Cirebon, uang sebanyak itu sering kali habis hanya untuk jajan dan membeli mainan saja.

Selama tinggal di Cirebon, adik-adik saya satu persatu terlahir ke dunia ini. Akhir Januari 2006, Fatimah, adik ketiga saya terlahir sebagai anak pertama yang lahir di kota udang ini. Selisih empat tahun dengan Fatimah, orang tua saya melahirkan lagi, Maryam namanya. Tak seperti Fatimah, Maryam lahir ketika orang tua saya sedang berada di Bandung. Pun sama ketika Fawwaz, adik kelima saya lahir. Fawwaz juga dilahirkan ketika umi saya sedang berada di Bandung. Sampai suatu ketika saya pernah berpikir “mungkin Fatimah satu-satunya anak yang lahir di Cirebon”. Namun ternyata perkiraan saya tersebut salah karena dipatahkan oleh lahirnya si bungsu, Salman pada 7 Agustus 2015 kemarin. Salman menjadi anak kedua yang lahir di kota udang ini.

Terbentuknya sebuah keluarga besar yang terdiri dari sepasang orang tua dan tujuh orang anak adalah sebuah kisah tersendiri yang menarik. Tentunya semua itu tak lepas dari nikmat-Nya yang selalu mengiringi saya beserta keluarga. Entah apa yang akan terjadi ke depannya, namun tentunya saya berharap bisa jauh lebih baik dari pengalaman-pengalaman sebelumnya.

Leave a Reply