Hidup Itu Pilihan

Namanya juga hidup, terkadang kita harus didesak dengan beberapa pilihan-pilihan yang ada. Entah itu pilihan yang sifatnya biasa-biasa saja ataupun yang bersifat sangat menekan. Pun, semua pilihan yang ada tentunya selalu memiliki resiko, apapun pilihannya itu.

Dan itupun berlaku untukku. Selama aku menjalani kehidupanku ini, sudah banyak pilihan-pilihan yang memaksaku untuk memilih salah satu di antara mereka. Dan tak jarang pula, pilihan-pilihan yang ada bersifat sangat menekan karena berkaitan dengan masa depanku kelak. Yaa, mungkin itu lah yang disebut pilihan hidup.

Bicara tentang pilihan hidup, ada sebuah pilihan hidup yang belum lama ini aku pilih. Pilihan yang ku pilih berdasarkan apa yang ingin ku kejar dalam hidup ini. Mungkin, kebanyakan makhluk-makhluk di dunia ini akan mengherankan apa yang telah ku pilih ini, apalagi dari para kaum yang berjaya di bidang akademiknya.

Tapi ini adalah pilihan hidupku, inilah yang ku butuhkan, inilah jalan kehidupanku. Karenanya, aku berani memprioritaskan pilihan ini ketimbang pilihan-pilihan lain yang lebih sejalan dengan logika mereka yang hanya mencari sebuah gengsi.

Kebiasaan yang Kemudian Terhenti

pixabay

pixabay

Bisa dibilang, pilihan ini juga berkaitan dengan hobiku di masa-masa sekolah dasarku dulu. Bahkan ini lah awal dari terbentuknya sebuah kesenangan yang meyakinkanku akan pilihanku ini. Menulis, itulah hobiku. Mulai dari sekedar menulis teks semacam diary, surat menyurat, sampai list barang-barang yang ku inginkan semuanya ku tulis.

Sampai bertemulah aku dengan seorang teman yang hobinya tak jauh berbeda denganku. Seorang anak yang tak mendalami dunia pendidikan formal, namun pemahamannya tak kalah dengan mereka yang bersekolah. Sebenarnya bukan karena kekurangan biaya untuk bersekolah, hanya saja mungkin dia mengalami sedikit permasalah sosial dengan teman-temannya di sekolah.

Dalam usianya yang masih sekitar dua tahun di bawahku yang kala itu aku pun masih menduduki bangku sekolah dasar, ditambah dengan kondisinya yang tak berpendidikan formal, ternyata tidak membuatnya berotak kosong. Bahkan, dengan kondisinya yang seperti itu, dia telah menjadi orang yang mengenalkanku dengan dunia blog gratis.

Sering membicarakan tentang blog, ternyata membuatku merasa penasaran dan ingin mencoba. www.kuyahejo.wordpress.com, itulah blog pertama yang kubuat. Dengan sedikit bantuan dari kawanku ini dan juga orang tuaku, aku mulai mendalami kebiasaan menulis artikel di blog ini.

Namun sayangnya, semua itu harus terhenti. Setelah lulus dari bangku sekolah dasar, aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikanku ke dunia pesantren. Karena kondisi yang tidak memungkinkan, kegiatan tulis menulis artikel pun ku tinggalkan. Namanya juga pesantren.

Harapan yang Tak Terwujudkan

pixabay

pixabay

Setelah tiga tahun menjalani kehidupan di dunia para santri, aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah negeri. Sebenarnya tujuan utamaku adalah mempelajari apa yang orang tuaku lakukan. Internet marketing, yaa, itulah tujuanku kala itu.

Pro dan kontra dari berbagai kalangan pun bermunculan. Seorang santri yang kemudian beralih profesi menjadi siswa sekolah negeri bagi beberapa pihak mungkin terasa berat. Maklum, pergaulan di sekolah negeri aku akui memang terlalu bebas dan nyaris tak terbatas. Wajar saja banyak kalangan yang mengkhawatirkan hal itu.

Terkadang fakta tak sesuai dengan rencana. Berencana kembali mendalami kehidupan di dunia blogging dan mempelajari internet marketing, pada kenyataannya semua itu belum bisa terwujud. Padahal dari zaman pesantren dulu aku sudah banyak berkhayal memiliki motor ninja hasil keringat sendiri kala SMA nanti.

Aku baru memulai apa yang dulu ku rencanakan ketikan aku berada di tahun terakhir menjadi seorang siswa dari sekolah negeri. Dengan bermodalkan sebuah web berbayar pemberian orang tuaku, aku mulai kembali menulis artikel, kemudian mempelajari sedikit tentang dunia internet marketing dan dunia SEO.

Namun semua itu tidaklah efektif. Selain karena orang tuaku sedang kesibukan menyelesaikan masalah ekonomi keluarga, aku pun disibukkan dengan tugas-tugas menyebalkan dari sekolah yang tak pernah membuatku semakin pintar. Semua itu hanya membuatku semakin depresi dan malas melakukan apa pun. Tapi mau bagaimana lagi, kala itu aku hanya hidup layaknya air yang mengalir tanpa arah dan tujuan.

Mau Dibawa Kemana Kehidupan Ini?

pixabay

pixabay

Sering kali orang tuaku berbicara tentang pilihan hidup yang akan ku pilih nanti, terutama setelah lulus dari SMA ini. Pada awalnya aku sama sekali tak peduli sambil tetap mengkhayal bisa menggeber motor ninja impianku itu. Namun semakin hari, akhirnya aku menyadari betapa pentingnya masa depan yang akan ku jalani nanti.

Karena aku juga sedikit memiliki bakat menggambar, akhirnya aku berencana untuk melanjutkan pendidikanku ke universitas yang memiliki jurusan desain komunikasi dan visual di daerah Bandung. ITB dan Telkom Bandung menjadi pilihan pertama dan keduaku.

Namun setelah dipikir-pikir dan juga setelah membiasakan diri untuk latihan menggambar, aku pikir aku kurang bisa menikmati bidang ini. Belum lagi aku masih punya hutang hafalan Al-Qur’an yang sudah lebih dari dua tahun tidak di-muraja’ah. “Apa pesantren lagi?” pikirku dalam hati. Entahlah, aku kala itu aku belum berani memutuskan pilihan hidupku.

Sebuah Langkah Besar dalam Hidup, Inilah Pilihanku

pixabay

pixabay

Kelulusan semakin hari semakin dekat dengan mata. Namun aku masih belum memiliki rencana pasti untuk kehidupanku setelah ini. Dan semua itu hanya membuatku semakin tertekan. Mulai dari tugas harian sekolah yang tak pernah ada habisnya, ujian yang sudah di depan mata dan aku masih belum ada persiapan, dan apa yang akan ku lakukan setelah ini, semua itu semakin menjadi beban pikiran yang menyebalkan.

“Dieq, gimana kalau pesantren internet marketing aja” tawar orang tuaku kala itu. Mendengarnya tentu membuatku heran. Di kala pesantren-pesantren kebanyakan justru menjauhkan santrinya dari dunia internet, justru orang tuaku malah menawarkan hal semacam ini. Entah darimana orang tuaku mendapatkan informasi ini, ternyata pesantren seperti ini memang lah ada. Sintesa namanya, sebuah pondok pesantren dengan fokus utama tahfidz dan internet marketing di daerah Magetan.

Tentu saja, berhubungan dulu aku memiliki kebiasaan menulis di blog gratisan dan juga ada keinginan belajar internet marketing aku merasa tertarik dengan tawaran ini. Belum lagi soal hafalan Al-Qur’an yang dijadikan fokus utama di sini, semakin membuatku merasa cocok dengan keinginanku selama ini.

Apa pun pilihannya tentu memiliki resiko tersendiri. Pun pada pilihan ini yang ternyata resikonya mungkin sangat merugikan bagi kebanyakan orang. Bulan Februari, di kala ujian nasional tinggal dua bulan lagi, program ini sudah dimulai. Tentu saja jika aku memilih ini, mau tidak mau aku harus meninggalkan sekolah dua bulan menjelang ujian nasional. Berat, memang sangat berat.

Namun setelah aku merenungkannya, aku menyadari satu hal. Selama ini untuk apa aku bersekolah? Mencari ilmu kah? Bukankah di internet sana ilmunya jauh lebih luas ketimbang materi di buku pelajaran pinjaman yang tak selama milik kita? Atau kah hanya sebatas gengsi dengan gelar lulusan SMA dengan ijazah dan nilai-nilai tinggi hasil pemberian guru, padahal otak masih kosong tanpa pemahaman?

Akhirnya aku menyadarinya. Selama hampir dua belas tahun aku menjalani hidup sebagai seorang siswa, yang ku cari bukanlah ilmu, melainkan kesenangan dan pertemanan. Pun, yang terpenting ini bukanlah sekolah atau tidak bersekolah, melainkan belajar dan membangun relasi pertemanan, terlebih mempelajari apa yang menjadi passion kita sendiri. Jika dunia pendidikan formal memang bidangnya, memang sesuai dengan passionnya, sekolah akan menjadi sarana yang paling efektif. Tapi, untukku yang memang tak mampu menikmati hal seperti itu, mengapa tidak memprioritaskan apa yang lebih sesuai dengan passionku?

Karena itu, aku berani mengambil sebuah langkah besar dalam hidupku dan sangat berkonsekuensi ini. Di sinilah aku memilih tujuan hidupku. Dua bulan menjelang ujian kelulusan aku meninggalkan sekolahku demi sesuatu yang lebih berarti bagi masa depanku. Tak peduli apa kata mereka yang masih terbelenggu dalam kehidupan bergengsi. Pesantren Sintesa ini akan menjadi awal dari terwujudnya impian-impianku.

***

Semua orang pasti akan dihadapkan dengan pilihan-pilihan hidupnya sendiri. Selagi resiko belum terlalu besar dan masih banyak pilihan yang ada, pilihlah dengan hati, jangan dengan gengsi. Lihatlah passionnya, kemudian tentukanlah jalan hidupnya. Jangan terlalu memusingkan apa kata mereka. Itu saja.

Leave a Reply