Hewan Pun Bisa Jadi Kawan

Sebagian orang mungkin berpikiran kalau memelihara binatang merupakan sebuah hal yang membosankan dan sama sekali tidak menarik. Namun hukum tersebut tidak berlaku bagiku yang sangat tertarik dengan binatang. Ketertarikanku dengan binatang selalu membuat tanganku gatal ingin memegangnya. Tak peduli binatang itu bersih ataupun kotor, peliharaan atau hasil tangkapan, bahkan jinak atau agresif sekalipun, semuanya sering kali terlihat menarik di mataku.

Berbagai jenis binatang sudah pernah ku pelihara, mulai dari yang wajar seperti hamster dan kura-kura sampai binatang yang bisa dibilang cukup ekstrem seperti ular dan kalajengking pun pernah ku pelihara.

Ular Pertama

pixabay

pixabay

Dari sekian banyak jenis binatang, yang paling bisa membuatku jatuh hati berasal dari bangsa reptil, yaitu ular. Ketertarikan ku dengan ular dimulai ketika aku dan keluargaku belum lama pindah rumah dari kota Bandung ke kota Cirebon. Posisi rumah yang kebetulan berdekatan dengan sawah ternyata menjadi sarana ta’aruf antara aku dengan ular-ular liar di sana. Bukanlah hal yang aneh lagi ketika seekor ular berenang bebas di selokan, melingkar di dedahanan pohon mangga depan rumahku, atau bahkan merayap masuk ke dalam rumah.

Melihat gerak-geriknya yang unik, ternyata membuat tanganku semakin terasa gatal ingin menangkapnya. Sampai datanglah kesempatan itu padaku. Sore itu, seperti biasanya jalanan komplek perumahan diramaikan oleh aktifitas anak-anak kecil yang sedang menghabiskan waktunya untuk bermain dengan teman sebayanya. Pun sama dengan diriku yang kala itu masih menduduki bangku sekolah dasar.

Suasana yang cukup ricuh itu tiba-tiba terhenti. Tiga ular jenis cincin mas yang melintas di saluran pembuangan air menjadi fokus utama anak-anak di sana. Aku yang memang sudah mulai ada ketertarikan dengan ular tentunya tidak mau buang-buang kesempatan lagi.

Dengan semangat empat lima, segera ku ambil perlengkapan untuk membantu pemburuan ular pertamaku ini. Hanya bermodalkan dua buah plastik bening untuk menutupi kedua tanganku dari air selokan yang nyaris tak terawat itu, aku memberanikan diri untuk menangkap ketiganya. Perasaan bangga pun datang dengan sendirinya kala aku berhasil menangkapnya. Ya, sejak saat itu aku semakin tertarik dengan reptil tak berkaki ini.

Ngebolang ke Sawah

pixabay

pixabay

Berhubungan letak geografis rumahku tak jauh dari sawah, aku dan teman-teman sebayaku sering kali menghabiskan waktu bermain dengan berpetualang ke sawah. Yaa tentunya dengan harapan siapa tau bisa mendapatkan tambahan koleksi hewan peliharaan. Bermodalkan saringan ikan, aku dan teman-temanku memulai petualangan ini ke dunia pesawahan.

Perjalanan sering kali dimulai saat siang hari di liburan sekolah. Seperti biasa, aku dan teman-temanku mengikuti aliran air sungai karena misi utama kami adalah mencari ikan. Tak jarang aku harus merelakan pakaianku untuk berenang di sungai yang tak bisa dijamin kebersihannya itu. Sambil mengayun-ayunkan saringan ke sungai, kami terus menelusuri petualangan ini.

Sampai tibalah aku dan teman-temanku di sebuah genangan air yang tak begitu luas. Aku mengambil saringan temanku dan mulai menyaring genangan tersebut. “Wah lele coy!!!” teriakku pada teman-temanku. Benar-benar kegembiraan tersendiri bagiku. Jika biasanya aku hanya pulang membawa ikan wader atau ikan betik yang tak lebih besar dari ukuran ibu jari kaki, kali ini bisa mendapatkan ikan lele di tempat ini.

Mungkin sebagian orang berpikir ”buat apa kotor-kotoran ke sawah hanya demi seekor lele? di pasar juga banyak”. Namun ada hal yang tak bisa dibeli di balik semua itu. Yaa, itu adalah sebuah pengalaman yang mungkin takkan pernah bisa digantikan.

Kura-Kura Penginspirasi

pixabay

pixabay

Tak hanya hasil tangkapan tangan sendiri, kadang kala aku pergi ke salah satu pasar di kotaku yang kebetulan menjual berbagai spesies hewan peliharaan dengan harga yang cukup terjangkau. Dan di situlah aku mendapatkan seekor kura-kura brazil yang menjadi inspirasiku atas terciptanya web ini.

Kuya hejo, frasa berbahasa sunda yang berarti “kura-kura hijau” menjadi domain web yang ku dapatkan ketika aku teringat dengan peliharaanku ini. Yaa bisa dibilang ini adalah peliharaanku yang paling panjang umur. Jika biasanya aku memelihara binatang sering kali hanya beberapa bulan saja, namun tak begitu dengan kura-kuraku yang satu ini. Kura-kura ini sudah ku pelihara sejak aku menduduki bangku sekolah dasar hingga saat ini ketika aku menginjak usia delapan belas tahun.

Sampai suatu ketika aku memutuskan untuk merelakannya pergi. Aku memiliki seorang teman yang kebetulan memiliki beberapa ekor kura-kura brazil jantan. Berhubungan kura-kura milikku ini betina, akhirnya aku memutuskan untuk mempertemukannya dengan kura-kura milik temanku ini. Ya tentunya dengan harapan agar dapat menghasilkan keturunan.

Namun apa yang ku harapkan sampai saat ini pun belum juga terwujud. Pada akhirnya aku menyerah pada kenyataan dan kemudian aku berikan kura-kuraku itu pada temanku. Ya mungkin suatu hari nanti apa yang ku impikan bisa menjadi kenyataan.

Kebun Binatang di Asrama

pixabay

pixabay

Masuk ke dalam masa-masa Sekolah Menengah Pertama, aku memutuskan untuk mencicipi rasanya menjadi seorang santri. Namun ternyata, ketertarikanku terhadap binatang tetap terbawa ke dunia pesantren. Belum lagi pesantren yang ku pilih ini berdekatan dengan sungai dan juga bukit. Secara otomatis, tak jarang jika banyak hewan liar berkeliaran di sana.

Di sana, aku bertemu dengan beberapa orang yang memang memiliki ketertarikan juga dengan binatang seperti halnya diriku. Sekali-kali aku dan teman-temanku memelihara binatang-binatang liar yang didapatkan dari wilayah pesantren yang ku tempati. Tak jarang pula binatang tangkapan itu dipelihara secara berjamaah di dalam kamar asrama.

Beberapa kali aku memelihara ular ketika aku menjalani kehidupan sebagai seorang santri. Yaa kalau boleh jujur, aku tidak pernah mendapatkannya secara langsung. Aku berstatus sebagai orang kedua saja karena aku hanya memelihara tangkapan teman-temanku. Pernah aku memelihara seekor ular hijau dan ku simpan di lemari kosong bagian bawah. Pernah juga aku memelihara ular koros dan ular kadut yang disimpan di dalam box plastik. Memang penempatan yang tak wajar, namun apa boleh buat karena kondisi tempat yang terbatas.

Selain ular, aku dan teman-temanku juga pernah memelihara seekor anak burung hantu. Temanku menemukan burung hantu itu di sebuah pohon kelapa dengan kondisi belum bisa terbang. Sepertinya burung hantu itu belum lama menetas. Aku dan teman-temanku merawatnya dengan cukup baik. Bermodalkan udang-udang kecil yang kebetulan tersedia di kolam pesantren, aku bersama teman-temanku menafkahi burung hantu mungil itu. Sampai pada akhirnya, burung hantu itu hilang entah kemana. Entah karena sudah mampu terbang sendiri atau karena ada yang mengambilnya.

***

Banyak pengalaman yang ku dapatkan dengan memelihara binatang. Yaa walaupun karena beberapa alasan, belakangan ini aku sudah jarang berinteraksi lagi dengan binatang. Tapi mungkin suatu hari nanti, akan ku teruskan hobiku ini dan kemudian akan menjadi sebuah cerita menarik yang berkelanjutan.

Leave a Reply