Dari yang Menyebalkan Menjadi Menyenangkan

Rubik, sebuah permainan teka-teki berbentuk kubus yang “katanya” mampu mengasih otak. Dulu, di kala benda itu masih terasa asing dalam genggamanku, kesannya sangatlah membosankan dan menyebalkan. Bagaimana tidak? Menyelesaikan satu sisi pun dulunya aku sama sekali tak pernah berhasil.

Namun jika ada usaha, semua hal yang mustahil terkadang menjadi mungkin. Begitu pula denganku ketika menghadapi permainan yang dulunya menyebalkan ini. Kali ini pandanganku berubah setelah menguasai teknik untuk menyelesaikan benda ini. Bahkan, bisa dibilang rubik ini menjadi satu hal yang membuatku merasa sangat tertarik.

Tiga Kali Tiga yang Mengubah Pandanganku

pixabay

pixabay

Banyak sekali jenis rubik yang telah diciptakan di dunia ini. Mulai dari 2×2, 3×3, 4×4, 5×5, mirror, pyraminx, fisher’s, square-1, dan masih banyak jenis lainnya yang tak kalah memusingkan. Namun dari semua itu, yang menurutku paling sesuai untuk seorang pemula adalah rubik 3×3. Mengapa? Karena memang rubik ini tak serumit rubik-rubik lainnya, bahkan 2×2 sekalipun. Selain itu, rubik jenis ini pun sudah terlanjur populer di kalangan manusia pada umumnya.

Sama halnya denganku yang kala itu masih berstatus sebagai seorang pemula. Bukan, bahkan statusku kala itu sama sekali belum menguasainya. Rubik 3×3 menjadi rubik pertama yang ku pelajari. Kala itu, orang tuaku juga belum lama menguasai rumus rubik ini. Karena penasaran, akhirnya aku mencoba untuk mempelajarinya dengan bantuan dari orang tuaku.

Membutuhkan waktu yang tak begitu lama, aku mulai memahami aturan main benda menyebalkan ini. Ku ulangi lagi apa yang barusan ku pelajari. Hasilnya, demi menyelesaikan benda itu ternyata memakan waktu berjam-jam. Tak apa, namanya juga pemula yang baru belajar.

Perlahan-lahan, dengan penuh kesabaran, ku ulangi setiap putarannya sambil memahami gerakan tangan yang ku lakukan. Semakin ku ulangi, semakin hafal gerakan tanganku sendiri, semakin cepat pula durasi waktu yang kubutuhkan untuk menyelesaikannya. Akhirnya, setelah sekian waktu yang ku jalani, bisa juga aku mempelajari benda yang tadinya menyebalkan ini. Kali ini aku sudah memahami aturan main benda ini, bahkan bukan sekedar tahu lagi aturan mainnya saja.

Kalau boleh jujur, aku nyaris tak menghafal rumus di saat mempelajarinya. Yang ku pelajari hanyalah kemana tanganku memutar benda yang tadinya ku anggap menyebalkan ini. Mungkin jika rumus yang ku pelajari, permainan ini hanyalah semakin menjadi beban pikiran tak berguna bagi otakku. Tapi karena gerakan tangan yang ku pelajari, pandanganku terhadap permainan ini seolah-olah berubah seratus delapan puluh derajat. Bahkan menurutku ini adalah permainan yang membuatku sangat tertarik.

Upgrade Trik, Buat Rekornya

pixabay

pixabay

Rasa penasaran memang tak pernah ada habisnya. Sudah menguasai caranya, ternyata masih belum membuatku merasa puas juga. Ada sebuah dorongan dalam diriku untuk membuat rekorku sendiri. Untuk memecahkannya, tentunya dibutuhkan teknik yang jauh lebih cepat ketimbang teknik yang biasa ku gunakan diawal aku mempelajari rubik ini.

Setelah melakukan riset via “mbah google”, aku akhirnya mendapatkan apa yang ku cari, rumus-rumus cepat untuk menyelesaikan rubik ini. Setiap rumus cepat pastinya memiliki syarat-syarat karena tidak bisa digunakan dalam semua kondisi. Belum lagi setiap kondisinya ternyata membutuhkan rumus yang berbeda. Tapi tak apalah, dorongan ini sudah terlalu membuatku penasaran.

Seperti biasa, yang aku pelajari bukanlah rumusnya, melainkan gerakan tanganku sendiri. Selain membuatku pusing, aku pikir menghafal rumus akan membuatku kesulitan dalam memahami aturan main benda ini, dan tentunya sulit pula untuk bisa mendapatkan rekorku sendiri.

Setelah sekian lama memahami teknik baru ini, siaplah aku untuk bereksperimen dengan durasi. Awal mencoba, masih di atas dua menit. Wajarlah, namanya juga belum terbiasa. Belum lagi ditambah dengan tangan yang bergetar karena terlalu grogi. Namun setelah diulang dan diulang, akhirnya aku mendapatkan hasil yang cukup memuaskan. Sekitar setengah menit, itulah rekorku kala itu.

Menjadi Seorang Guru

pixabay

pixabay

Kira-kira sudah sekitar dua kali aku berprofesi menjadi seorang guru, yaa guru rubik tentunya. Yang pertama ketika aku masih menyandang gelar santri, dan yang kedua ketika aku bertemu dengan sahabat-sahabatku di masa-masa SMA.

Mungkin karena penasaran layaknya aku dahulu, banyak juga ternyata yang tertarik dengan rubik ini. Melihat aku menguasai tekniknya, beberapa di antara mereka yang memintaku untuk mengajarinya. Tapi bagaimana? Rumusnya saja aku tak begitu hafal. Tapi karena mereka memaksa, mau bagaimana lagi, akan ku ajarkan dengan caraku saja.

Di saat para master-master rubik lainnya mengajarkan rubik dengan istilah U, D, R, L, F, B, dan lain sebagainya, aku memiliki caraku sendiri. “Kanan ke atas, atas ke kanan, depan ke kiri” yaa begitu lah kira-kira caraku mengajari mereka. Konyol memang, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali.

Tiga Kali Tiga Sukses, Lanjut Versi Lainnya

pixabay

pixabay

Paham aturan main sudah, memecahkan rekor pribadi sudah, berbagi ilmunya pun sudah, apa lagi setelah ini? Sedangkan tanganku masih terasa gatal ingin mencicipi sesuatu yang baru. Apa teknik lain? Tidak, itu terlalu biasa, lebih baik kalau aku mencoba rubik versi lain.

Diantara rubik-rubik lain, tipe 4×4 lah yang ku pilih. Selain karena tekniknya tak jauh berbeda dengan rubik 3×3, rubik ini juga termasuk rubik yang paling banyak beredar di pasaran. Karena itulah aku memilih rubik ini.

Berhubungan aku membelinya di salah satu toko online, tentunya aku tidak bisa memeriksa kualitasnya dengan sempurna. Baru saja membeli rubik ini, aku sangat merasa kecewa. Rubik yang harganya cukup mahal itu terasa seperti rubik seharga sepuluh ribuan. Kondisinya benar-benar tidak nyaman dimainkan. Tapi tak apalah, yang penting aku sudah memiliki fasilitas untuk mempelajarinya.

Aturan mainnya ternyata hampir sama dengan rubik 3×3, perbedaannya hanya di awal dan di akhir proses penyelesaian saja. Berhubungan aku sudah sangat paham dengan rubik 3×3, tak perlu menghabiskan waktu lama untuk mempelajarinya.

Sama seperti rubik 3×3, begitu teman-temanku mengetahui kalau aku sudah menguasai rubik 4×4, rasa penasarannya kembali bermunculan. Yaa tentunya mereka memintaku untuk mengajarinya. Aku meng-iyakan saja, walau dengan kondisi rubik yang sangat tak nyaman itu.

***

Masih ada beberapa jenis rubik lagi yang aku kuasai. Namun karena jarang dilatih, tentunya tak sesukses kedua rubik itu. Belum lagi rubik-rubik jenis lain lebih susah untuk dicari sehingga aku pun belum pernah membelinya. Mungkin lain kali akan ku kembangkan lebih jauh kemampuan ini.

One Response

  1. Pantun January 27, 2017

Leave a Reply