Tata Cara Shalat Istikharah yang Sesuai Syari’at, Lengkap dengan Niat dan Doa

Shalat Istikharah – Sebagai umat muslim, kita telah disyari’atkan untuk melaksanakan shalat istikharah dengan cara yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW sebelum memutuskan atau melaksanakan sebuah urusan atau perkara.

Itu semua dikarenakan manusia merupakan makhluk yang lemah dan tidak memiliki kemampuan mengetahui masa depan. Karenanya, dengan melaksanakan shalat istikharah kaum muslimin diperintahkan untuk berdoa kepada Sang Rabb untuk meminta diberikan yang terbaik.

Al ‘Allamah Al Qurthubi rahimahullah pernah berkata, “Sebagian ulama menjelaskan bahwa tidak sepantasnya bagi orang yang ingin menjalankan di antara urusan dunianya sampai ia meminta pada Allah pilihan dalam urusannya tersebut yaitu dengan melaksanakan shalat istikharah.”

Untuk itu, di artikel ini kita akan membahas tentang pengertian dan tata cara shalat istikharah secara lengkap. Di mulai dari pengertian shalat istikharah, niat shalat istikharah, hingga doa setelah shalat istikharah.

Pengertian Shalat Istikharah

santrigaul.net

santrigaul.net

Kata istikharah sendiri diambil dari bahasa Arab. Jika diartikan menurut bahasa, istikharah artinya adalah memilih atau meminta pilihan. Sedangkan menurut istilah berarti melakukan shalat untuk meminta petunjuk kepada Allah SWT.

Shalat istikharah adalah shalat sunnah dua rakaat yang dilakukan untuk meminta petunjuk kepada Allah SWT ketika seseorang hendak mengambil sebuah keputusan diantara dua urusan yang kedua pilihannya sama-sama baik.

Misalnya tatkala seorang muslim hendak memilih calon pasangan sebelum menikah, shalat istikharah ini dianjurkan agar mendapat kemantapan hati dalam memilih calon pasangan untuk dinikahi nanti.

Namun, jangan salah pemahaman dulu. Shalat istikharah ini tak hanya dilakukan ketika hendak memilih pasangan saja. Shalat istikharah ini juga dianjurkan untuk dilakukan dalam memilih hal-hal lain, seperti dalam memilih pekerjaan, melanjutkan pendidikan, dan lain sebagainya.

Poin penting lainnya yang perlu diperhatikan yaitu shalat istikharah ini tak hanya dianjurkan untuk dilakukan ketika mengalami keraguan semata. Shalat istikharah ini sebenarnya dianjurkan pada setiap kali memilih sebuah perkara urusan.

Tata Cara Shalat Istikharah

Dari Sahabat Jabir bin Abdillah RA mengatakan :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ يَقُولُ إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ

Rasulullah SAW mengajarkan kami shalat istikharah dalam setiap urusan/perkara yang sedang kami hadapi, sebagaimana beliau mengajarkan kami sebuah surat dari Al-Quran. Beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian berniat dalam suatu urusan, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang bukan shalat wajib, kemudian berdoalah…”. (HR. Al-Bukhari)

Dari hadits yang diriwatkan oleh Al-Bukhari tadi, kita dapat mengetahui bahwa Rasulullah SAW sangat menganjurkan shalat istikharah ketika hendak menghadapi segala urusan. Dengan kata lain, shalat istikharah tidak dilakukan ketika kita sedang mengalami keraguan semata.

Dalam potongan hadits tadi disebutkan bahwa kita dianjurkan untuk melakukan shalat dua raka’at yang bukan shalat wajib ketika hendak menghadapi segala perkara. Jika kita memperhatikan potongan hadits tadi, shalat istikharah tidak selalu dikerjakan dengan niat shalat istikharah semata.

Ketika kita melakukan shalat sunnah lainnya, seperti shalat dhuha, tahajud, mutlaq, dan lain sebagainya selama bukan shalat wajib yang kemudian dilanjutkan dengan memanjatkan do’a meminta pilihan yang terbaik, maka itu pun termasuk shalat istikharah.

Karena itu, tata cara shalat istikharah ini juga sama dengan tata cara shalat sunnah dua raka’at lainnya. Dimulai dari niat, takbiratul ikhram, do’a iftitah, al-fatihah, membaca surat dalam Al-Qur’an, dan seterusnya hingga salam, kemudian dengan dilanjutkan dengan do’a.

Do’a Shalat Istikharah

Sebenarnya, do’a  yang dibaca ketika selesai melaksanakan shalat istikharah dapat menggunakan do’a sendiri selama masih ada kaitannya dengan menghadapi sebuah perkara, baik itu menggunakan bahasa Arab, bahasa Indonesia, atau bahkan menggunakan bahasa daerah sekalipun.

Hanya saja, akan lebih baik lagi ketika kita mencontoh persis apa yang diajarkan Rasulullah SAW demi mencapai kesempurnaannya. Do’a yang dianjurkan Rasulullah SAW sendiri tercantum pada lanjutan dari hadits yang telah dituliskan di atas tadi. Berikut versi lengkapnya.

Dari sahabat Jabir bin Abdillah RA, beliau mengatakan :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا ، كَمَا يُعَلِّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ يَقُولُ « إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ – ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ – خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ »

Rasulullah SAW mengajarkan kami shalat istikharah dalam setiap urusan/perkara yang sedang kami hadapi, sebagaimana beliau mengajarkan kami sebuah surat dari Al-Quran. Kemudian beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu, lalu hendaklah ia berdo’a:

Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih

“Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak mengetahui. Dan Engkaulah Maha mengetahui perkara yang ghoib.

Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku.

Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut buruk bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.” (HR. Al-Bukhari)

***

Demikianlah penjelasan singkat mengenai shalat istikharah. Bila ada kesalahan mohon dimaafkan serta mohon koreksinya, karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. –Wallahu a’lam bishawab-

 

Leave a Reply